Manis, Merah dan Montok

Ini cerita tentang hari Minggunya deMiyashita. Seperti  sering aku tulis, Gen sering harus bekerja juga di hari Minggu, padahal hari Minggu adalah satu-satunya hari untuk keluarga yang dinanti-nanti Riku dan Kai.

Nah, tgl 20 Februari kemarin, Gen perlu ke kantornya juga, tapi tidak tentu jamnya. Terserah. Dan dia mengusulkan supaya aku adan anak-anak ikut sampai kampusnya, dan kemudian aku jalan-jalan ke daerah sekitar naik mobil dengan anak-anak. Hmmm usul yang bagus, meskipun aku sebetulnya malas menyetir hari Minggu. Karena selain jalanan macet hari Minggu, mereka yang biasanya tidak menyetir hari biasa, keluar rumah pas hari minggu. Weekend drivers ini boleh dibilang agak “bego” kalo nyetir hihihi. Lelet, plin-plan dsb dsb deh. Nyebelin!

Padahal hari Minggu aku dan anak-anak sudah siap dari pagi, tapi akhirnya kami berangkat pukul 11 lagi deh. Untung jalan tol menuju daerah Saitama tidak begitu padat, sehingga kami bisa sampai di dekat kantornya Gen pukul 12:20. Usul Gen untuk pergi ke Taman Stroberi Kasuya, tapi aku bilang, bagaimana kalau kita pergi bersama saja. Toh kita tidak akan berlama-lama memetik dan makan stroberi. Satu jam maksimal. Dan Gen tergoda….cihuy…

Jadi kami bersama-sama pergi ke Taman Stroberi untuk Ichigogari (memetik stroberi sepuasnya). Waktu mau parkir lumayan padat tempat parkirnya, sehingga kami pikir tidak bisa masuk lagi seperti minggu lalu. Karena kami tidak reserve juga hari ini. Tapi coba saja deh….

Ternyata kami masih bisa masuk, karena tempatnya cukup luas, dan tamu waktu itu belum begitu banyak (Ya jelas kami sampai di situ pas waktu orang makan siang). Untuk dewasa (Riku sudah dianggap dewasa) kami harus membayar 1600 yen/orang dan untuk Kai kami membayar 1000 yen. Kemudian kami membuka sepatu, ganti dengan selop, dan membuka jaket kami untuk ditaruh di loker. Ya di dalam green house itu suhunya nyaman sekali berkisar 20-23 derajat. Kami kemudian diantar oleh petugas ke dalam green house.

Petugas menjelaskan cara-cara dan peraturan memetik stroberi di situ. Stroberi yang ditanam di situ setinggi pinggang orang dewasa sehingga mudah sekali melihat dan memetiknya. Jadi tidak usah membungkuk-bungkuk untuk memetik. Selain itu bagi yang memakai kursi roda juga bisa enjoy.

Stroberi dalam planter yang setinggi pinggang orang dewasa, sehingga anak-anak dan yang berkursi roda dapat ikut enjoy memetik stroberi.

Peringatan pertama waktu memetik adalah jangan ditarik. Karena kalau ditarik maka akar akan luka dan semua stroberi yang belum jadi (masih hijau) juga akan rusak…. dan tentu ini merugikan ladang itu. Jadi potong dengan kuku tangkai buah kira-kira 3-4 cm dari buah. Kedua jika mau makan, petik dulu daunnya, baru makan. Maksudnya supaya jangan banyak bagian buah terbuang. Mereka menyediakan condensed milk (susu kental manis) tapi disarankan untuk mencoba makan stroberi begitu saja dan rasakan manis buah aslinya. Untuk memetik stroberi itu kami tidak dibatasi waktu. Jadi kalau mau seharian juga boleh 😀

Nah waktu kami datang hanya dibuka seperempat green house. Dan memang buahnya kecil-kecil, meskipun manis. Sudah banyak buah merah yang dipetik oleh pengunjung sebelum kami. Mungkin ada pengunjung yang complain, dan/atau memang sudah waktunya membuka lahan lebih banyak lagi, jadi kami bisa mencari buah stroberi yang lain di bagian lahan yang baru dibuka. Dan situ stroberinya BESAR BESAR! Wah aku cukup kaget karena biasanya buah stroberi yang sebesar itu dijual seharga 2000-3000 per paknya. Memang rasanya lain. Padahal katanya sih jenisnya sama. Coba saja lihat perbandingan buahnya.

Stroberi regular (biasa) dan stroberi giant (raksasa) 😀

Aku tentu saja lebih mementingkan ambil foto daripada makan. Aku tidak begitu tergila-gila dengan stroberi. Tapi aku baru tahu bahwa suamiku itu suka stroberi hihihi. Jadi dari awal masuk sampai keluar Gen makan banyak stroberi, termasuk bagiannya Kai. Karena Kai baru 2-3 biji sudah berkata, “Aku kenyang!” (dia memang tidak begitu suka stroberi).

Kalau Riku? Dia menurun dari papanya, suka yang manis-manis seperti mama stroberi dan diam-diam bergerak sendiri cari stroberi yang merah, dan langsung makan. Bahkan dia pergi sendiri menjumpai petugas untuk minta susu kental manis, dan kembali lagi :).

Riku dengan stroberinya

Riku mau makan tapi malas metik, jadi kebanyakan apa yang sudah aku petik aku berikan pada Riku. Tapi setelah wadah yang aku punya penuh dengan stroberi yang Giant itu, aku duduk dan menikmati manisnya stroberi.

Di dekat tempat kami duduk ada dua kotak yang bertuliskan Maruhanabachi, lebah untuk penyerbukan bunga stroberi. Bunga stroberi itu juga manis, berwarna putih kecil-kecil, tapi aku sendiri tidak pernah melihat lebah itu menempel pada bunga stroberi di tempat kami.

Lebah untuk mengisap madu bunga stroberi

Riku dan Kai ketakutan melihat lebah yang beterbangan. Takut disengat, padahal kami di situ semua tenang-tenang saja. Asalkan tidak mengganggu kegiatan mereka, kita tidak akan disengat.

Akhirnya sekitar pukul 1:30 an kami keluar dari situ dengan perut kenyang dengan stroberi. Dan meskipun tidak minum apa-apa selama di dalam ladang stroberi ini, aku sampai 2 kali pergi ke WC… Ternyata stroberi itu kandungan airnya banyak juga yah hehehe. (Bilang aja beser 😀 )

Setelah dari ladang stroberi, kami menuju stasiun Shin Sayama, karena katanya setiap hari Minggu ke tiga dalam bulan, ada semacam pasar kaget di situ. Dan benar, ada beberapa kios di jalan yang ditutup, termasuk sebuah kios untuk menembak mainan dengan senapan.

Wah Riku senang sekali, dan karena 1 kali game hanya 100 yen, Gen berikan 100 yen ke Riku. Tanpa ba bi bu, dia bayar dan mendapat 6 buah peluru. Dia membidik ke kertas penyambung mainan yang dia ingini, dan di butir ke 3 dia dapat merobek kertas itu. Senang sekali dia. Di Tokyo biasanya permainan shateki atau menembak senapan ini 1 kali 300 yen, dan tidak ada hadiah hiburan. Di sini ada hadiah hiburannya berupa kue/permen.

Tentu saja melihat kakaknya main, Kai ingin juga. Jadi aku bantu dia memegang senapan itu. Bagaimana bisa kena, kalau senapannya saja tidak terarah. Aku belum bidik, dia sudah tembak! Jadi aku bilang, “Tunggu dong kai, kalau mama bilang tembak, baru tembak”. Si kakek petugas berkata, “Duuuh mama cerewet amat ya nak” hahaha. Aku jadi tertawa dan bilang ke kakek itu, “Soalnya kalau dia tidak dapat mainan itu bisa nangis, cengeng dan bikin repot!”. Padahal kalau mau dipikir ya jelas ngga mungkin dong. Kai sependek itu membidik ke mainan yang tinggi jauh di atas dia. Nah petugas yang satu lagi sampai sengaja “merobek” sedikit lagi kertasnya supaya kalau kena bisa langsung jatuh :D…. Makasih opa hehehe

Riku membidik, Kai merengek, Riku dan Kai senang!

Tetap saja dengan 6 butir peluru, Kai tidak berhasil mendapatkan mainan yang dia inginkan. Apalagi melihat kakaknya membawa mainan helikopter… “Kai juga mau….” Ya sudah, aku minta Riku untuk bermain lagi supaya bisa mendapatkan mainan yang Kai inginkan. Tentu saja yang Kai inginkan adalah helikopter yang sama 😀 Heran deh … Dasar anak-anak, maunya yang sama hihihi.

Riku tentu saja senang disuruh main lagi, dan GOTCHA, dia dapatkan helikopter. Muka sedih Kai berganti jadi senyuman deh hihihi

Sementara itu aku belanja sayuran di kios sayuran. Ada beberapa yang mahal, tapi sayuran umum seperti bayam, wortel, daun salada, jauh lebih murah daripada di Tokyo. Borong deh mama Imelda.

Pasar di kampung, harga murah, senyum juga murah. Sampai aku bilang ke Gen, aku disuruh pindah ke sini mau juga deh…. Cuma memang lebih susah untuk hubungan tetangga. Harus bermanis-manis dengan tetangga supaya tidak jadi sumber gosip. Hal yang lumrah sebetulnya, tapi di Tokyo sudah tidak ada… Dingin, cuek semua! (And sometimes I missed it)

Setengah jam saja di situ, kami lalu ke kantornya Gen. Gen langsung masuk kantor, sedangkan aku dan anak-anak bermain bola di lapangan rumputnya. Puas deh anak-anak berlarian, sementara aku berlatih memotret dengan kamera “lungsuran” bapak mertua Nikon D80. Yes, We’ll become Nikonians. Masih belum biasa, dan memang kamera Canon G9ku adalah yang teringan, bagus hasilnya dan pasti jadi 😀

Lama-lama main di luar dingin, jadi kami masuk ke dalam kantor. Bukan ngadem, tapi nganget 😀 Mencari kehangatan. Tapi Gen merasa “terganggu” dengan penampilan kami (padahal kami tidak ganggu loh), dan meminta aku ajak anak-anak pergi ke tempat lain. OK boss… (agak malas sebetulnya), dan kami pergi ke Saibokujo. Sebuah tempat peternakan babi, yang mempunyai restoran, pemandian air panas, tempat bermain anak-anak, dan semacam pasar festival. Tak lupa ada juga supermarket yang menjual hasil perkebunan dari peternakan itu. Tapi karena aku sudah belanja sayur ya tidak masuk ke supermarketnya deh.

Tadinya kami mau masuk ke pemandian air panas, hot springnya. Tapi bingung 😀 Karena Riku tidak bisa mandi bersamaku (Kai karena belum SD masih bisa ikut aku)  jadi agak sulit untuk janjian selesai jam berapa. Padahal Riku ingin sekali masuk onsen (hot spring) berendam di air panas belerang, apalagi kalau melihat gambarnya, ada bermacam-macam kolam di dalamnya (yang terpisah pria dan wanita). Ada kolam arus, ada kolam terbuka dsb.

Aku telepon Gen menanyakan progress, kemajuan kerjanya, dan katanya sudah hampir selesai. Jadi kami membatalkan masuk hot spring, dan membeli snack saja di kios-kios yang ada di pasar festival situ. Hampir jam 6 kami meninggalkan Saibokujo dan menjemput Gen di kantor.

Biasanya “Dont mix bussiness with pleasure” but hari ini kami mencampuradukkan kerjanya Gen dengan kesenangan kami berekreasi kecil-kecilan. Petit Zeitaku (bacanya puchi zeitaku) istilahnya Gen, Petit = kecil dari bahasa Perancis, dan Zeitaku =kemewahan dari bahasa Jepang. Kemewahan yang tidak mahal. Yang dalam keluarga kami berarti rekreasi yang tidak mahal. Dan aku yakin setiap keluarga punya caranya masing-masing untuk melewati hari libur dengan biaya rendah ya. (Aku tidak yakin bahwa dengan ke Mall bisa biaya rendah :D)

Kalau ini pipi merah, tapi montok dan manis ngga ya????

Stroberi Kertas

Karena pak Marsudiyanto sudah tidak sabar sampai menanyakan kok TE belum update, maka cepat-cepat aku publish cerita tentang hari Minggu lalu, yang memang tidak kelar-kelar penulisannya. Entah kenapa malaaaas terus bawaannya minggu ini :D. (Dan memang hari Senin turun salju lagi yang cukup tebal)

Minggu, 13 Februari lalu. Tokyo cerah! Saling cerahnya membuat kami ingin keluar rumah. Tapi kemana? Syaratnya harus murah dan tidak terlalu jauh. Lalu Gen mengajak kami pergi ke ladang stroberi dan ke kota Ogawa, Saitama.

Tapi siap-siap dan sarapan membuat kami akhirnya keluar rumah pukul 11 siang. Dan sekitar pukul 12:20 kami sampai di Hanazono, Kota Fukaya Saitama. Di situ ada semacam pasar dari koperasi Hanazono yang cukup besar, dan mempunyai parking lot yang luas. Tapi tujuan kami adalah sebuah ladang di belakangnya yang bernama Hanazono Ichigo-en (Taman Stroberi Hanazono). Ini adalah kedua kalinya kami mampir ke sini. Pertama kali sudah pukul 4 sore, jadi taman sudah ditutup. Dan kali ini kami juga gagal memetik stroberi karena sudah penuh dengan orang yang reserve. Kami belum reserve jadi tidak bisa ikut memetik stroberi hari itu.

Gagal deh memetik stroberi yang berada di dalam rumah vinyl di latar. Lain kali musti reserve dulu deh. (Tapi kemarin aku beli stroberi manis dan murah, lalu Gen bilang... beli aja deh sudah pasti enak hihihi)

Hmmm cukup kecewa, sehingga akhirnya kami langsung bergerak menuju kota Ogawa, tempat pembuatan kertas Jepang. Tapi begitu masuk kota Ogawa, terbaca sebuah papan “Pemandian Air Panas Kawaranoyu” yang katanya bisa merendam kaki. Coba-coba kami mampir ke situ, dan…. ternyata penuh sehingga harus antri. Ok lah kupikir aku ambil saja nomor gilirannya. Aku mendapat nomor 25, dan disuruh menunggu nanti akan ada pengumuman sampai dengan nomor berapa boleh masuk dan menyelesaikan pembayaran. Terus terang aku tidak tahu cara-caranya, jadi sambil menunggu Gen memarkirkan mobil (yang juga antri) aku cari-cari informasi. Dan setelah Gen masuk ke lobby, terdengar pengumuman bahwa sudah boleh masuk sampai dengan kartu no 5. HAAAAAHHHH!!!! Nomor 5, sedangkan kami nomor 25? Musti tunggu sampai kapan? Kami langsung memutuskan BATAL!

Tempat praktek membuat kertas, spt pabrik saja. Bawah jenis-jenis kertas yang dihasilkan (dan dijual)

Pembatalan ke dua deh 😦 Jadi kami langsung menuju Balai Kerajinan Tradisional Saitama 埼玉伝統工芸会館.  Membayar 300 yen untuk dewasa kami langsung memasuki sayap kanan gedung, tempat praktek membuat kertas Jepang. Hmmm yang disebut kertas Jepang adalah kertas yang agak kasar permukaannya, masih kelihatan berserat, kadang terlihat ada potongan emas atau kertas perak, pokoknya nyeni deh. Biasa dipakai sebagai cover lampion, atau untuk pintu geser.

Kertas jepang yang biasanya dibuat tanpa mesin (handmade)

Nah, di sini kami bisa mencoba membuat kertas sendiri. Dengan membayar 840 yen kami bisa membuat 8 lembar kartu pos sendiri. Bisa juga ukuran lain dengan harga berbeda, tapi kami memilih membuat kartu pos saja. Kami diajarkan oleh Ibu Tanino Hiroko 谷野裕子, yang merupakan salah satu ahli pembuat kertas handmade ini.

Aku dan Riku bergantian menciduk pulp kertas

Memang tidak begitu susah, karena kami cukup “menciduk” air yang berisi bubur kertas, kemudian menggoyang-goyangkannya supaya airnya turun lewat saringan. Tapi proses menciduk itu dua kali sehingga kalau tidak hati-hati bisa masuk gelembung udara. Sesudah air turun semua, kertas kami ditaruh di atas lapisan kain supaya bisa kering, dan sementara itu kami menghiasnya memakai bunga, daun, kertas, pita, apa saja yang bisa dipakai sebagai hiasan.

Menghias kartu pos dengan bunga, kertas, pita dsb

Karena ada 8 lembar kartu pos, kami berempat termasuk Kai rame-rame menghiasnya. Kai paling senang membuat bentuk dari perforator berbentuk sakura atau hati. Jadi dia buat yang banyak, dan kami yang pakai 🙂

Sementara kami sedang menghias, ada seorang pengunjung bapak-bapak yang agak cerewet, minta dijelaskan proses pembuatan dari awal. Semacam kuliah singkat deh. Akhirnya kami juga “nebeng” dengerin kuliah singkat tentang pembuatan kertas Jepang ini.

Kertas Jepang terbuat dari kayu sejenis kuwa, yang diambil hanya bagian kulitnya saja. Kemudian kulit kayu itu dibersihkan sampai putih,  sambil direndam menjadi semacam kapas. Semua pekerjaan dilakukan dengan tangan, dan proses ini (pengumpulan kayu, pengulitan sampai menjadi semacam kapas) dilakukan di musim dingin. Jaman sekarang semua dikerjakan dalam ruangan, tapi dulu dikerjakan di sungai. Bisa bayangkan bekerja dengan memakai air sungai di musim dingin. Belum lagi punggungnya duuuh ngebayanginnya aja sudah bbbbrrrr.

Setelah bahan pulp itu bersih dari kotoran, dicampur dengan semacam lem (aku tidak tau apa namanya) untuk membuat bahan itu mengambang dalam air.  Karena jika bahan pulp ini tenggelam maka akan sulit untuk menciduknya.

Proses pembuatan dari kayu sampai pulp

Cara menciduk, berapa kali menciduk menentukan ketebalan kertas. Untuk seorang profesional mereka tahu kira-kira berapa kali menciduk atau dengan mata saja bisa mengetahuinya. Yang paling menentukan waktu pertama menciduk mengambil lapisan teratas yang amat tipis, seperti membran. Baru kemudian menciduk yang agak banyak dan “mengayak” sehingga seluruh permukaan saringan tertutup. Lakukan berulang kali, sampai tercapai ketebalan yang diinginkan. Kemudian lapisan kertas itu ditaruh di atas kain untuk menyerap air. Nah, yang lucu kertas ini ditumpuk berlapis-lapis di atasnya tanpa ada “pembatas”. Kok bisa tidak menyatu ya? Ya, mungkin karena membran itu 😉

Petugas membuat lapisan penutup kartu pos yang telah kami hias

Setelah mengikuti kuliah singkat itu kami sempat melihat petugas menumpuk kartu pos yang kami hias tadi dengan lapisan kertas tipis, untuk kemudian dikeringkan. Kami tidak bisa membawa pulang hasilnya saat itu karena masih basah. Jadi mereka akan mengirim ke rumah hasilnya (dan kami terima hari Rabu kemarin)

Selain ada tempat praktek membuat kertas, di Balai Kerajian Tradisional Saitama itu juga ada tempat pameran (dan percobaan) menenun kain, tapi sayang waktu kami datangi sudah ditutup. Kemudian kerajinan kayu dengan lemari khas Jepang, boneka Hina (untuk perayaan Festival anak perempuan), lampion dll.

Keluar dari Balai Kerajinan ini sudah pukul 4 sore. LAPAAAAR! Soalnya kami makan nanggung sih (brunch jam 10 pagi). Jadi tujuan selanjutnya mencari makan, dan sesudah muter-muterin gunung (karena masih penasaran cari tempat memetik stroberi) akhirnya kami bisa makan yakiniku di kota Fukaya.  Sudah jam 5 tuh.

Dan tujuan kami terakhir hari itu adalah Parking Area (tempat istirahat jalan tol) Yorii, yang terletak di sebelah kota Ogawa. Karena kami mendengar bahwa Parking Area itu mengambil pemandangan dari buku Le Petite Prince. Memang kami sudah pernah pergi langsung ke museumnya di Hakone, tapi mumpung di jalan tol, bisa gratis istirahat kan?

Yorii Parking Area yang mengambil pemandangan dari buku Le Petite Prince

Dan benar saja, begitu kami masuk PA tersebut, pemandangan kota Perancis di malam hari menyebarkan suasana romantis. Kami sempat mampir ke toko di situ, dan memang tokonya juga lain dari yang lain. Selain menjual pernik-pernik buku “Pangeran Kecil”, juga menjual kue-kue dan permen ala eropa. Kalau tidak tahan mata, aku bisa borong semua deh 😀

Kami sampai di rumah pukul 8 malam. Masih pagi, tapi cukup capek. Jadi kami menutup hari dengan membacakan buku dongeng untuk anak-anak.

Hari itu tidak dapat stroberi tapi dapatnya kertas deh…..

Kai dan kartu pos made by d'Miyashita

Autumn Leaves and Fishing

Judul yang aneh karena biasanya orang tidak memancing di musim gugur. Tapi di hari libur “Hari Pekerja” tgl 23 November ini, deMiyashita memancing daun dan …ikan!

Seperti biasa, Riku bangun pagi, jam 6 kurang. Karena aku sempat terbangun dini hari untuk 3 jam, maka aku masih tidur ketika dia membangunkan aku, “Ma, aku boleh masak Omuraisu (semacam nasi goreng yang dilapisi telur dadar) ?” Rupanya dia kelaparan.
“Boleh saja, tapi hati-hati dengan api ya….”

Tadinya aku mau tetap tidur, tapi rasanya kok khawatir juga membiarkan dia masak sendiri. Akhirnya aku bangun, hanya untuk mengawasi pemakaian api, dan…. memotret! Memang ini bukan yang pertama kali dia mencoba memasak, tapi pertama kali dia mengerjakan semua, sejak mengocok telur sampai menggoreng dan membuat nasi gorengnya. Nasi gorengnya tentu ala Riku, yang gampang, hanya nasi diberi saus tomat dan sedikit garam/lada. Dia sendiri tidak begitu suka daging, sehingga tidak pakai daging (kalau aku pasti masukkan ayam/daging giling/susis…apa saja).

Gayanya sih sudah seperti Chef beneran. Dua wajan dipakai! hahaha. Dan hasilnya lumayan enak loh. Telurnya empuk dan manis …fuwafuwa ふわふわ, karena diberi susu. Buktinya satu piring penuh dia habiskan sendiri hihihi (biasanya kalau aku bikin cuma makan setengahnya)

Nah, kemudian satu persatu penghuni apartemen kami bangun. Di luar hujan rintik terus menerus. Jadi aku tidak bisa mencuci baju. Kami melewatkan pagi itu dengan menonton tivi dan aku membersihkan ruangan.

Tapi setelah pukul 11, hujan berhenti dan hangat! Sejak hari Minggu udara dingin, jadi waktu udara menjadi hangat begini, rasanya ingin keluar rumah. Akhirnya Riku minta papanya untuk ke taman, dimana dia bisa berlari sepenuh hati. Dia sendiri yang menyarankan kami pergi ke  Tokorozawa Aviation Park di Saitama. Dia tahu di sana terdapat lapangan yang luas, dan ada tempat bermain untuk anak-anak.

Yosh! Kami berangkat pukul 1:30 siang. Langsung lewat toll ke arah Tokorozawa. Dan menjelang masuk parkiran Taman itu terpaksa harus antri cukup lama. Karena macet dan rupanya cukup banyak orang yang memanfaatkan cerahnya hari dengan berjalan-jalan ke Taman ini. Waktu masuk aku sempat kaget juga membaca bahwa ongkos parkir di situ gratis untuk 2 jam pertama, dan setiap jam berikutnya HANYA 100 yen. Weks, mana ada semurah ini di Tokyo? Rasanya ingin pindah ke Saitama aja deh.

Gayanya Kai and Autumn Leaves @Tokorozawa Aviation Park

Sementara Gen antri parkir, aku dan anak-anak turun duluan. Dan kami disambut dengan pemandangan musim gugur yang indah! Lapangan luas dengan pohon-pohon yang sudah mulai berubah warna. Banyak keluarga datang dan bermain di sini. Benar-benar pemandangan yang mengundang kita untuk berlari dan …tiduran di atas hamparan permadani daun emas!

Setelah Gen bergabung, aku mendapatkan kesempatan untuk NARSIS hehehe. Untung saja suamiku ini mau melayani permintaan istrinya yang juga mau memamerkan buku sahabatnya, Mas Nug yang baru diterbitkan. Mata Hati adalah buku foto+puisi yang mengajak kita berkeliling dunia, menikmati pemandangan dan hal-hal sepele yang tertangkap oleh mata-hati seorang lawyer kondang (yang berminat mendapatkannya silakan baca di sini) . Kalau tidak khawatir nasib anak-anak dan sungkan pada Gen, pasti bisa berjam-jam deh berfoto di sini… tentu saja dengan berbagai pose hehehe.

Memang kami tidak bisa mengelilingi Taman seluas ini semuanya. Bayangkan taman ini dulu merupakan bandara pertama di Jepang! Luasnya 11 kali Tokyo Dome, yaitu sekitar 47 ha. Sebuah taman yang bersejarah, yang bisa digunakan oleh semua warga dengan gratis. Tentu saja harus bayar jika ingin menggunakan lapangan tenis atau melakukan kegiatan khusus lainnya. Tapi kalau hanya untuk berjalan-jalan, jogging atau bermain di tempat anak-anak, bahkan piknik….semuanya gratis. Mau murah tinggal naik sepeda (kalau mobil kan bayar parkir). Ada juga sih museum pesawatnya, tapi untuk masuk museum harus bayar 500 yen untuk dewasa.

Riku dan Kai menikmati taman dengan bermain, berlari, memungut dahan, main perosotan (Kai takut-takut sih), kemudian ada pula jungle jim. Sementara mama Imelda memotret daun Momiji (maple) yang berubah warna oranye dan merah. Indah!

Puas bermain, kami mencari makanan kecil dan minuman hangat. Ada sebuah kantin di sana, dan kami membeli yakisoba (mie goreng jepang), takoyaki (octopus ball), potato fries dan frankfurt (susis). Bener-bener junk food deh hehehe.

Waktu mau kembali ke parkiran itulah kami mmapir ke museum dengan niat untuk masuk. Tapi karena sudah jam 4:30, tidak bisa beli karcis lagi (Museum tutup jam 5, dan 30 menit sebelumnya tiket tidak dijual). Akhirnya kami berjalan pulang setelah melihat toko souvenirnya saja (tanpa beli apa-apa) dan waktu itu pun sudah mulai gelap.

Lampu-lampu di pohon mengingatkan Natal yang sudah semakin dekat

Kami juga melewati gedung pertunjukan MUSE, sebuah tempat untuk konser dan hall serba guna. Katanya Universitasnya Gen juga sering menyewa tempat ini untuk upacara penerimaan mahasiswa baru. Kalau malam indah karena diterangi oleh lampu-lampu, baik di gedungnya maupun di taman bagian dalamnya.

Bingung memilih tempat makan malam, Gen mengajak kami pergi ke sebuah restoran yang unik. Namanya ZAUO. Dia pernah ke sana dengan dosen-dosen universitasnya dan berniat mengajak kami juga. Cukup mahal memang, tapi bulan ini memang kami tidak pergi ke mana-mana, jadi kami memutuskan menikmati restoran ini.

Riku tidak tahu tentang rencana kami ke restoran ini, sehingga begitu kami masuk, dia langsung teriak kegirangan. Betapa tidak, begitu kami masuk langsung melihat sebuah kapal di atas kolam dan beberapa anak-anak memancing. “Aku mau mancing…aku mau mancing!”

Memancing dari atas "kapal", tapi sisi sebelah sini kurang banyak ikannya. Lagipula pinter-pinter, tidak mau makan umpan padahal sudah di depan hidung.

Kami mendapat tempat duduk di atas kapal karena kamar-kamar kecil sudah penuh dipesan orang lain. Kalau di kamar kecil itu, memancingnya dari jendela kamar yang terbuat dari kaca yang bisa melihat langsung ikan berenang. Ya seperti memancing di akuarium deh.

Tapi justru dengan duduk di atas kapal itu, kami bisa bebas memancing kemana-mana. Sayangnya di sisi kapal dekat meja kami jarang sekali ikannya.

Kami memesan dua kail+ umpan. Semua ikan yang kami pancing harus dimakan atau dibawa pulang, tidak boleh dilepas lagi. Lagipula ada daftar harganya. Jika tidak memancing misalnya untuk seekor kakap harganya 3200 yen, tapi kalau memancing sendiri “cuma” 2300 yen. Tapi ya memang untung-untungan, karena cukup lama untuk bisa menangkap seekor ikan. Kelihatannya ikan-ikannya juga sudah pinter, tidak mau makan umpan biarpun sudah di depan hidung.

Riku dengan Kakap hasil pancingan kedua

Setelah 20 menitan muter-muter cari tempat yang enak, akhirnya Riku berhasil memancing satu ikan kakap. Wah betapa girangnya dia. Lumayan besar loh ikan itu. Dan ikan tangkapan Riku yang pertama, kami minta untuk dibuat IKEZUKURI, atau sashimi (arti harafiah dari ikezukuri adalah memotong ikan dalam keadaan hidup. Jika ikan jenis “aji” dia masih bisa megap-megap meskipun dagingnya sudah “dicincang”. Tapi ikan kakap ini tidak, meskipun pada bagian sirip punggung masih bergerak meskipun sudah cukup lama bertengger di atas meja).

Karena Riku sudah mendapat satu ikan besar, Gen meminta aku memancing di tempat ikan “Aji“, ikan kecil dan murah (680 yen) yang juga enak dibuat sashimi. TAPI ikan Ajinya itu ditaruh dalam satu kolam bersama ikan Hirame (ikan sebelah) yang harganya muahal (3480 yen). Nah, maksud hati mancing yang murah, eeeh yang makan umpan aku justru si Hirame ini. Sial! hahaha. Karena ikan sebelah ini tipis, maka kami minta untuk digoreng.

Imelda dan Hirame...huh aku ngga mau kamu kok sebetulnya hihihi

Kembali ke meja kami, tahu-tahu Riku berteriak…”Aku dapat ikan lagi”… ya, dia tangkap ikan Kakap lagi! Aku cepat-cepat ambil jala untuk menadah ikan tersebut. Wahhh 3 ikan yang besar, gimana abisinnya nih? Untung kami suka ikan, jadi ikan Kakap nya Riku yang kedua kami minta untuk dibakar dengan garam saja. Yang paling sederhana….dan paling enak kalau menurut aku. Kalau kebanyakan masakan Indonesia kan ikannya digoreng, tapi aku paling suka ikan dibakar tanpa bumbu apa-apa, hanya garam. Dan kamu bisa tahu segar tidaknya, enak tidaknya seekor ikan. Back to nature deh.

Kakap ikezukuri... sirip punggungnya masih bergerak-gerak

Sebetulnya Riku masih mau memancing, tapi kami larang. Karena 3 ikan saja sudah 10.000 yen! mahal hihihi. Dan sambil makan dia ngomong terus,
“Papa terima kasih ya hari ini aku senang sekali. Bayangin aku bisa pancing dua ikan! duh aku mau tulis di catatan harianku soal hari ini….”
“Papa janji ya untuk ajak lagi ke sini, Aku suka sekali restoran ini…”
“Papa, nanti kalau aku ulang tahun, mau buat pesti di sini saja…”
“Aku mau part time job di restoran ini deh, jadi bisa mancing terus-terusan”
“Papa, aku kalau besar mau jadi Nelayan aja ah…asyiknya bisa tangkap ikan setiap hari”
…. dan kami berdua meredakan kegembiraan dia dengan berkata, “Iya kalau ada rejeki”,
“Kamu bisa memancing untuk hobi buat sebagai matapencaharian”,
“Kamu belum tahu susahnya mancing di laut. Ikannya besar-besar, perlu tenaga besar”,
“Iya nanti minta ajak Pak Eto, dia ahli memancing ikan. Kamu ikut aja sama dia biar tahu sebenarnya bagaimana”.
Tapi terus terang kami juga senang Riku menemukan kegemaran baru, meskipun mungkin tidak berlanjut lama.

deMiyashita @ Zauo resto unik di Saitama

Pemandangan indah, pengalaman baru, makan enak, tertawa bersama. Satu hari yang indah yang kami lewatkan bersama, sambil menikmati bulan November yang hampir habis.

Have a nice Wednesday temans

deMiyashita

Hari Laut di Kebun Binatang

Aneh ya judulnya? Di Jepang tanggal 19 Juli kemarin memang Hari Laut, hari libur nasional. Sejarahnya ada di postingan terdahulu deh (ubrak abrik aja tahun lalu punya ya)  heheheh. Jadi sejak Sabtu tanggal 17 -18- 19 seluruh Jepang libur panjang… cihuy kan? Tapiiiiii untuk kami tidak cihuy karena Gen cuma bisa libur hari Sabtu, sedangkan hari Minggu dan Seninnya dia harus kerja…. Oh Japanis opis emang gitu dehhh. Sebagai gantinya nanti tgl 22-23 dia akan dapat libur.

Nah… biasanya Gen ke kantor naik mobil, soalnya dia kerja di pedalaman sono, yang bus nya cuma ada 30 menit sekali. Tapi untuk hari Senin kemarin itu berbahaya sekali membawa mobil. Perginya sih ok, tapi pulangnya pasti akan terjebak macet.

Pagi kami bangun udara sudah 30 derajat. Dan katanya di Saitama akan mencapai 36 derajat hari ini. Wahhh… Aku kasihan pada Gen yang harus naik sepeda lagi ke stasiun dekat rumah, dan perjalanan jauh ke kantornya…so, aku menawarkan mengantar dia naik mobil. Atau tepatnya ikut bersama anak-anak dan mobilnya aku bawa pulang gitu hehehe.

Nah, kalau antar Gen, sampai di kantornya jam 9, rasanya mubazir juga kalau langsung pulang. Di dekat kantornya Gen ada sebuah kebun binatang anak-anak milik pemerintah daerah Saitama. Sudah pasti kecil sih tapi lumayan lah untuk anak-anak.

Jadi deh, kami sampai di kebun binatang itu pukul 9:30, karena sempat mampir di Lotteria untuk makan pagi dulu. Biasa, kalau imelda lapar bisa berubah jadi singa.Nanti kan kaget petugasnya kalau koleksi singanya bertambah. (Padahal di bonbin ini tidak ada singa hahaha)

Begitu kami sampai di bonbin itu, membayar hanya 250 yen (dewasa 200 yen dan 50 yen anak SD)… dan memang kecil. Kesanku yah seperti Ragunan lah, cuma lebih kecil dan bersih. Tapi panasnya rek….

Binatangnya juga cuma sedikit tapi ada tempat untuk anak-anak memegang langsung (fureai) anak ayam, marmut dan kura-kura. Untuk anak yang tinggal di kota, tidak ada kesempatan untuk bermain dengan binatang, sehingga banyak anak yang datang ke tempat fureai ini. Termasuk Kai yang takut-takut tapi mau.

Nah, setelah dari tempat fureai yang dimulai jam 10:30 ini, kami ke tempat menunggang kuda. Riku senang sekali, karena sudah lama dia ingin sekali naik kuda. Dan kalau mau naik kuda di Tokyo, musti cari tempat berkuda dan bayarnya cukup mahal. Sedangkan di bonbin ini hanya 100 yen satu putaran. Satu putaran saja sudah cukup!

Untunglah Riku tidak usah menunggu sampai ke Jakarta. Karena dia ingin naik kuda sudah lama, aku berjanji akan mengajak dia ke tempat rekreasi yang bisa naik kudanya di Jakarta… (Puncak atau Bandung). Jadi sekarang daftar tugas aku dalam rangka mudik nanti bisa berkurang sedikit.

Dan yang paling menggembirakan, meskipun panas, anak-anak menyatakan bahwa mereka senang bisa jalan-jalan di HARI SENIN (libur hihihi). Padahal seharusnya kalau panas begini tuh ke tempat yang ada airnya, swimming pool atau laut.

Bunga-bunga di mana-mana

Yah, kalau di toko bunga sih sudah wajar ada bunga di mana-mana. Atau jika pergi ke Taman Bunga, baik itu Taman Anggrek, Taman Mawar dan lain-lain. Nah, kalau di sini sebetulnya begitu masuk musim semi sudah terasa pemandangannya akan berbeda dengan biasanya, karena hampir di setiap sudut kota, depan pagar rumah terlihat bunga. Namanya saja musim semi, musim bunga!

Kalau akhir pekan lalu kami mengunjungi Taman Tulip di Kasumigaura, Ibaraki, maka Sabtu kemarin, tanggal 1 Mei yang bertepatan dengan Mayday, kami pergi ke Chichibu, perfektur Saitama . Tidak biasanya Gen libur hari Sabtu, tapi karena kami memasuki Golden Week, tanggal 29 April, 3-4-5 Mei yang merupakan hari libur di Jepang, maka Gen bisa libur juga. Dari tanggal 1 sampai 5 Mei kami bisa berlibur sekeluarga.

Memang paling enak jika bisa berlibur ke luar negeri atau wisata domestik ke luar kota, tapi itu berarti harus siap macet, padat penumpang jika mau naik angkutan umum, dan mahal! Malah dalam liburan begini lebih enak wisata dalam kota, karena sebagian besar warga Tokyo akan pergi ke luar Tokyo. Nah, seperti biasanya kami tidak menentukan akan pergi ke suatu tempat, nariyuki 成り行き (seenaknya saja), jadi setelah makan brunch pukul 11 pagi, kami keluar rumah dan pergi ke arah Chichibu. Sudah lama aku ingin pergi ke sini. Tempat ini terkenal dengan Shibazakura, (kalau diterjemahkan langsung adalah Sakura Rumput) , tanaman perdu yang berbunga mirip sakura berwarna warni, yang berbunga memenuhi lahan laksana karpet patchwork bunga.

Chichibu terletak 80 km dari rumah kami di Nerima, ke arah Saitama. Kata Gen cukup lama kita akan bermobil, dan mungkin macet. Jadi kami bersiap membawa bekal minuman. Kai yang sedang toilet training pun aku pakaikan pampers. Tapi untung saja memasuki jalan tol, di luar dugaan lalu-lintas lancar. Dan kami sampai di tempat parkir terdekat Taman Gunung Domba 羊山公園 Hitsujiyama Koen pukul 2 siang. Dari tempat parkir (harga parkir 500 yen untuk mobil sedan) disediakan shuttle bus gratis p.p. Hmmm bagus juga layanannya. Kalau bukan hari Sabtu.Minggu dan hari libur, kami bisa parkir langsung di tempat parkir taman. Tapi karena hari ini hari libur, kami musti parkir di tempat yang agak jauh. Mungkin kalau semua mobil parkir di lapangan parkir, selain menimbulkan kemacetan, juga menyebabkan polusi!

Wahhh dari perjalanan kami memasuki Chichibu saja, kami sudah menikmati pemandangan gunung dan bukit yang menghampar luas. Hidup dan tinggal di Tokyo yang serba sempit, membuat kami merindukan pemandangan seperti ini. Langit bagaikan tanpa batas.  Bus kami sampai di gerbang Taman Gunung Domba, dan dari situ kami harus berjalan kurang lebih 20 menit untuk bisa sampai ke tempat utama Bukit Shibazakura 芝桜の丘. Jalan setapak dengan pohon jenis sakura jenis  yang masih mekar lambat, kemudian hamparan ladang dengan suara kodok. (Riku sempat mencari asal suara hehehe). Course jalan kaki cukup panjang tapi tidak berat. Sama sekali…tapi aku kagum karena melihat lumayan banyak lansia bertongkat yang berjalan di sini! Bahkan ada seorang nenek yang memang benar-benar susah payah berjalan (sepertinya sesudah stroke) tapi tetap bersemangat jalan! Hebat! Demi kesehatan jasmani dan rohani!

Jalan setapak menuju Taman Shibazakura

Kami sampai di depan pintu masuk taman Bukit  Shibazakura 芝桜の丘 dan membeli karcis masuk seharga 300 yen. Untuk siswa SMP ke bawah gratis! Murah… meskipun ongkos transport ke sininya lumayan mahal jika naik kereta. Dan pemerintah daerah Chichibu benar-benar mengurus tempat wisata ini dengan baik.

Dan begitu kami memasuki pintu Taman Bukit Shibazakura, terhamparlah pemadangan seperti ini ………….

Ada aku di tengah gambar ini!

BUNGA!!!!

BUNGA!!!!

BUNGA DIMANA-MANA !!!!

bunga perdu yang bernama shibazakura. di sini terdapat 9 jenis menempati27.600 m persegi areal

meskipun banyak orang, tetap BUNGA yang dominan di sini. Coba kalau datang hari biasa pasti lebih sedikit orang. Perlu diketahui bahwa tempat ini hanya buka satu bulan (berbayar) dalam setahun! Dari awal April sampai awal Mei, karena bunga sakuranya sesudah itu akan habis, dan tidak ada lagi yang bisa dilihat. (Tapi orang boleh masuk gratis untuk jalan-jalan).  Jadi untuk mengharap taman yang berbunga ini hanya milik kita sendiri adalah suatu hal yang impossible.

Banyak orang tapi masih bisa menikmati keindahan bunga. Semua orang mengeluarkan bakat narsisnya. Berfoto sana sini, dan aku menyesal aku terlupa membawa HPku di mobil, sehingga tidak bisa memotret lebih banyak lagi (Duilah segitu masih kurang mel? hihihi).

Memang hanya bunga, tapi mengelilingi tempat ini cukup memberi kesegaran bagi kami. Dan kami menuju ke peternakan domba yang terletak di sebelah taman. Riku dan Kai cukup banyak melewatkan waktu di sini, berusaha mendapat perhatian dari domba yang berada di dalam pagar. Aku sempat berkata pada Gen, seandainya kita orang kaya punya tanah ranch dan peternakan seluas ini…wahh. Tapi duitnya dari mana? Kita harus jadi orang kaya bener-bener untuk bisa tetap hidup, dan tinggal di ranch menjadi liburan sepanjang waktu. Toh kita tidak bisa menjadi cowboy eh sheepboy hehehe.

Dan kami meninggalkan kandang domba yang menjadi simbol tempat ini. Hitsujiyama Koen, Taman Gunung Domba memang tidak afdol jika tidak ada dombanya bukan?

Melewati arena makanan dan oleh-oleh, kami berjalan pulang melewati jalan yang lain dengan waktu berangkat. Dan pemandangannya lain lagi.  Di tengah perjalanan pulang ada sebuah jinja kecil dengan torii (gerbang merah bertumpuk) . Benar-benar Jepang!

Kami menaiki bus pukul 4:50 kembali ke tempat parkir. Dan sesudah itu kami sempat mampir di beberapa tempat penjualan hasil tanaman yang ada di Chichibu, tapi tidak membeli apa-apa. Dan terakhir, kami tutup acara jalan-jalan hari Sabtu itu dengan makan di Restoran Saiboku, restoran yang dimiliki peternakan babi di Saitama.

Bela Diri

Sabtu malam kami menonton acara di TV tentang Prefektur Saitama, yang terletak persis di sebelah barat Tokyo. Dan sebetulnya cukup dekat dengan rumahku, wilayah Nerima. Nah, kemarin itu banyak memperkenalkan tentang resto/rumah makan enak , dan terbanyak adalah rumah makan yang menjual ramen, soba dan udon. Pokoknya serba mie deh. Tapi ada satu tempat yang diperkenalkan di situ yaitu Nasi Kare siap saji yang dikeluarkan oleh Angkatan Darat Jepang. Dan katanya bisa dibeli di Rikkun Land.

Rikku land adalah nama kesayangan untuk Rikujo Jietai Kohou Center (JGSDF Public Information Center). Kalau kita orang Indonesia akan lebih mudah mengatakan Pusat Informasinya Angkatan Darat deh… tapi perlu diketahui, AD di Jepang bukan ARMY tapi SELF DEFENCE (sejarahnya tentu saja panjang, sepanjang usia kemerdekaan Indonesia). JGSDF adalah singkatan dari Japan Ground Self Defence Force.

Karena nama Riku memang berarti daratan, kami ingin mengajak Riku pergi ke Pusat Informasi itu dan melihat-lihat kalau ada kaus T Shirt bertuliskan kanji Riku  陸. Asyik kan tuh kalau pakai kaos dengan nama sendiri, bukan nama orang lain seperti Chanel, Agnes B, Tommy Hilfiger dll hihihi. Jadi Minggu pagi, Gen memeriksa homepage Pusat Informasi GDSDF di Asaka, Saitama dan menemukan informasi bahwa hari itu, tanggal 7 Februari, Prajurit Jietai itu akan memasak sup miso tonjiru dengan memakai dapur di camp, dan menjual dengan harga murah kepada pengunjung mulai pukul 10 pagi! Waktu Gen berkata itu jam sudah menunjukkan pukul 9… yaaah telat deh. Tapi Gen bilang jarak rumah kita sampai tempat itu hanya 15 menit naik mobil. Wow…

Jadi aku cepat-cepat bersiap-siap, menjemur cucian, dan mempersiapkan anak-anak, dan sempat mencuci rambut yang berdiri semua, mungkin seperti kata Lala  Megaloman. Cepat-cepat naik mobil dan berangkat, pukul 8:50. Hmmm pasti terlambat deh…

Kami sampai di tempat itu pukul 9:15, setelah antri untuk masuk ke pelataran parkir. Peraturan di sana, semua penumpang harus turun, dan supir saja yang mengemudikan mobilnya ke parkiran. Pasti untuk keamanannya. Sambil menunggu Gen datang, kami melihat-lihat foto-foto yang ada di lobby yang sudah dipenuhi orang.

Kami dilayani dua jietai yang membagikan sup tonjiru

Begitu Gen datang, kami langsung membeli dua mangkuk tonjiru (sup miso pakai daging babi – untuk yang muslim kalau dengar tonjiru itu pasti pakai babi) seharga 300 yen (1 mangkuk 150 yen). Kami menerima sajian tonjiru dalam mangkuk foam dari jietai wanita. Sambil duduk di meja lipat, di ruangan itu juga diputar kegiatan GDSDF di berbagai belahan dunia, sebagai anggota pasukan keamanan PBB.

Setelah makan, kami pergi ke ruang pameran yang memamerkan helikopter dan tank serta berbagai simulasi. Tapi waktu kami melihat keluar, ada antrian yang cukup panjang, Rupanya mereka antri untuk bisa menaiki truk tentara, dan berkeliling kamp dalam truk serasa jietai. Jadi kami ikut antri deh. Pas duduk di antrian, aku sempat mengajak Kai jalan-jalan, dan waktu kembali Gen memberitahukan aku sesuatu yang cukup membuat shock.

Ya, warga negara asing tidak boleh mengikuti ekskursi menaiki truk tersebut. Selain itu tentu ada banyak peraturan lain, seperti anak belum sekolah juga tidak boleh naik, karena harus memakai helm dan harus bisa naik turun sendiri. Tapi bahwa gaikokujin, orang asing tidak boleh naik itu loh (bisa tapi harus mengurus surat ijin yang cukup lama) , cukup membuat aku termenung. Hmmm…. kemudian aku pikir, ya tentu saja, truk itu kan kepunyaan militer sebuah negara. Tentu saja orang asing tidak bisa seenaknya pakai milik negara lain. Kan ada kemungkinan mata-mata juga.

Papan petunjuk yang membuat aku tercenung. Japanese only …hiks

Gen minta maaf (padahal yang membuat peraturan kan negaranya hihihi) lalu aku dan Kai melewatkan waktu sendiri di pelataran halaman luar sambil berfoto-foto. Tentu saja ada tank, truk dan yang mengagumkan ada mobil unit operasi, lengkap dengan meja operasi dan…. CD player..pokoknya musik deh.  Katanya untuk menenangkan pasien. Aku berkelakar dengan prajurit yang berdiri di situ, “Jangan-jangan yang luka tidak dibius ya?” Dan dia hanya mesem tertawa…. (hiiiiii ngga berani bayangin)

Mobil operasi, lengkap dengan meja operasi dan pemutar musik …

Cukup lama juga menghabiskan waktu berdua Kai saja. Sempat mengabadikan Kai menjadi fotografer. Kai memang benar-benar suka memotret dan menganggap kamera lama kami sebagai kameranya. Marah kalau tidak ada/tidak bisa pakai kamera. Lalu aku mengajak Kai untuk makan tonjiru lagi. Kali ini Kai saja yang makan. Hebat! Dia biasanya agak sulit makan, tapi kali ini dia makan semua sayuran yang ada dalam sup itu.

Kai sampai nungging untuk mengambil foto yang selevel mata dengan dia

Lalu kami berdua kembali lagi ke ruang pameran dan bertemu dengan Gen dan Riku yang sudah selesai naik truknya. Riku sedang mencoba menggendong ransel tentara seberat 12 kg. Persis seberat Kai (dan memang Riku sering menggendong Kai). Selain itu juga mencoba jaket anti peluru. Juga sama 12 kg.

Sesudah itu aku dan Kai masih harus menunggu lagi 1 jam, karena Gen dan Riku antri untuk mencoba flight simulator. Untung saja aku tidak mencoba, karena kata Gen dia menjadi mual setelah naik flight simulator itu. Jelas aja dong.

Mustinya naik motor ini dengan seragam tentara. Sebetulnya bisa pinjam tapi Gen ngga suka tuh…

Akhirnya kami meninggalkan Pusat Informasi GDSDF itu sekitar pukul 12:45. Ada satu atraksi yang kami lewati yaitu theater 3 D. Kami sepakat tidak mau kasih liat Riku. Dan sebagai oleh-oleh untuk Riku dan Kai adalah serutan pensil berbentuk pesawat tempur. Kaus Rikunya? Karena tidak ada sizenya kami tidak jadi beli. Alasan saja sih sebetulnya karena cukup mahal –2000 yen– dan sssttt Gen sebenarnya tidak suka Army Look! Bayangin aku pernah beli celana panjang Army Look untuk Riku, dan dia tidak suka sama sekali! Lah? Terus kenapa ajak ketempat begituan? Hihihihi, kan pengetahuan mengalahkan rasa suka tidak suka. Tidak suka matematika bukan berarti tidak belajar matematika kan? Apa yang harus dipelajari dan diketahui tidak sejajar dengan apa yang disukai atau tidak disukai. Itulah hidup!

Riku dengan pakaiaan “Bela diri”