Siberia

Siberia memang nama daerah di Asia Utara  yang merupakan wilayah Russia, bahkan menguasai  77% wilayah meskipun hanya ditempat 44% penduduk Russia (wikipedia). Tapi yang ingin kutulis hari ini bukan mengenai Siberia yang nama daerah, tapi Siberia nama kue yang (pernah) terkenal di Jepang.

Sekilah penampilannya seperti kue lapis surabaya, tapi rasanya lain. Bagian yang putih memang sponge cake vanilla biasa, yang sering disebut sebagai Castella di Jepang, kemudian di tengahnya diberi lapisan berwarna hitam yang merupakan pasta/jelly dari kacang merah yang disebut angko di Jepang. Angko sering ditemui dalam mochi/dango atau kue tradisional lainnya. Terlihat seperti dodol tapi jauh lebih lembut teksturnya. Rasanya seperti kue-kue Jepang lainnya, tidak terlalu manis. Kue lapis surabaya jauh lebih manis.

siberia

siberia, kue lapis khas Jepang 😀 yang khusus aku beli tadi sore seharga 210 yen

Kue ini akhir-akhir “bangkit” kembali, dan mulai banyak ditemukan di toko-toko padahal kue ini sebenarnya boleh dikatakan sudah hampir punah tak terlihat. Konon kue ini pertama kali dibuat pada jaman Jepang belum mempunyai lemari es, sekitar akhir Meiji (1867) awal Taisho (1912-an). Kue ini memberikan “angin baru” untuk makanan kecil Jepang dengan penampilan yang menyejukkan, dan begitu populer sehingga sempat menjadi ranking nomor satu “Kue yang ingin dimakan anak-anak” pada awal Showa (1925-an) . Siapa yang menemukan, atau siapa yang memberikan nama Siberia untuk kue semacam ini tidak ada yang tahu.

Nama kue ini mencuat kembali seiring diputarnya film “Kaze Tachinu – The Wind Rises”. Ada sebuah adegan yang menampilkan ketika tokoh cerita menyodorkan kue Siberia ini kepada anak-anak miskin yang sedang menunggu orang tuanya pulang kerja malam hari di depan toko kue. Karena takut anak-anak itu tidak mau mengambil pemberian Horikoshi Jiro itu. Pengaruh film atau media memang cukup besar sehingga bisa mengangkat kembali “sesuatu yang terlupakan”.