Pesan Pemerintah untuk Musim Panas

Aku sering membaca pesan pemerintah Jepang di pamflet, papan pengumuman kelurahan atau di buletin kelurahan. Dan kalau di tempat-tempat begitu memang kita tahu bahwa itu adalah sarana pemerintah memberitahukan warganya. Tapi selain tempat milik  pemerintah, Jepang, aku juga sering melihat di TV swasta dan surat kabar swasta. Aku tidak tahu sih apakah memang disediakan kolom khusus untuk iklan pemerintah, atau memang ada budget khusus untuk iklan di TV dan surat kabar itu. Nanti kalau bertemu orang iklan aku tanyakan deh.

Nah iklan yang aku baca di harian Asahi beberapa hari yang lalu adalah peringatan ” Alam pada Musim Panas Bahayanya di Luar Dugaan!”.

Peringatan Pemerintah di Musim Panas

  1.  Menurut data pemerintah, jumlah kecelakaan waktu mendaki gunung dalam tahun lalu itu yang terbanyak sepanjang sejarah. Demikian pula dengan kecelakaan yang terjadi di perairan baik sungai maupun laut.
  2. Waktu mendaki gunung pada musim panas, amat berbahaya jika berpakaian tipis. Harap merencanakan sebaik-baiknya perjalanan mendaki gunung dengan memperhatikan suasa, kondisi badan dan persiapan perlengkapan.
  3. Waktu memancing atau bermain dengan boat, harus mengenakan jaket pengaman life jacket.

Memang banyak sekali terjadi kecelakaan di perairan. Waktu musim panas, biasanya keluarga pergi camping di tepi sungai dan bermain air. Bahkan sungai yang rendah (tidak dalam) atau tanpa arus menyimpan bahaya yang tidak bisa diabaikan. Dalam suatu percobaan di televisi, jika tinggi air mencapai punggung waktu duduk di sungai harus hati-hati. Jika tiba-tiba ada arus deras datang arus setinggi punggung (leher masih di atas) pun membuat kita tidak bisa berdiri dan terbawa arus.

Sangat disayangkan dengan kejadian fushinsha (orang tak dikenal yang berniat jahat)  beberapa hari terakhir, sekolah Riku membatalkan latihan renang dengan baju lengkap. Latihan ini sebenarnya diadakan untuk memberikan pengetahuan kepada murid-murid SD jika bermain di sungai/pantai dan tiba-tiba terbawa arus. Misalnya baju yang menggelembung dalam kondisi awal bisa dijadikan pelampung. Tapi setelah basah dan udara keluar tentu tidak bisa, sehingga harus secepatnya membuka sepatu dan baju, untuk membuat badan menjadi ringan. Trik-trik untuk menghadapi kecelakaan air ini memang perlu diajarkan karena biasanya di musim panas anak-anak pasti bermain air atau berenang. Semoga tahun depan pelajaran ini bisa dilaksanakan.

Aku sendiri tidak pernah suka air. Aku tahu bahwa aku tidak pandai berenang, sehingga tidak akan bisa berbuat apa-apa jika terjadi sesuatu dengan anak-anak. Oleh karena itu aku selalu menolak ajakan teman untuk bermain di kolam renang atau water boom, tanpa ada suami atau orang yang ahli SAR. Biar saja aku dikatakan sombong, tapi kecelakaan di air itu amat banyak.

 

 

Iklan

Carte Postale

Gaya ya pakai bahasa Perancis, padahal cuma ingin menulis Kartu Pos saja 😀

Beberapa waktu yang lalu, sahabat blogger Arman meminta padaku apakah bisa mengirimkan kartu pos dari Jepang untuk anaknya, Andrew. Tentu saja aku setuju, meskipun akhirnya kartu pos yang sudah lama kutulis membutuhkan waktu untuk terkirim. Tapi pengiriman kartu pos itu asalkan menulis airmail dan membubuhkan perangko yang cukup, pasti akan sampai tidak lebih dari 1 minggu.

Aku memilihkan kartu pos dari Yokohama dengan latar belakang gunung Fuji yang baru saja dinobatkan sebagai world heritage. Salah satu sebab aku menunda-nunda pengiriman, adalah pemilihan perangko yang bagus. Sebetulnya ingin menempelkan perangko disney, tapi punyaku entah terselip ke mana. Jadi kupilihkan perangko chochin (lampion) besar dari Kuil Sensouji di Asakusa, Tokyo.

Bagiku, kartu pos dan perangko merupakan nostalgia, kenangan yang tak terlupakan. Dulu waktu kecil, papaku sering dinas, bepergian ke luar negeri. Dan kami selalu menerima kartu pos dari negara itu. Tentu aku selalu mengumpulkannya, semoga masih ada di rumah Jakarta. Tapi kebiasaan mengirim kartu pos terus dilanjutkan papa setelah aku pindah ke Jepang. Salah satunya yang kutemukan dikirim papa dari Belanda.

carte postale dari papa tahun 1997

Sayangnya aku dan Gen tidak bekerja di bidang yang “global” dan mengharuskan pergi ke negara-negara lain di dunia. Sehingga kebiasaan mengirim post card ini tidak bisa aku lanjutkan untuk anak-anakku. Padahal kebiasaan ini menurutku amat bagus. Selain mengetahui pemandangan di luar negeri, juga sekaligus bisa mengumpulkan perangko dari negara-negara lain. Memang jaman sekarang untuk mengetahui kabar cukup dengan email, atau FB, twitter dan SNS lain. Gratis tanpa perlu membeli kartu pos dan perangko. Tapi tetap rasanya lain menerima email dan menerima kartu pos.

dua kartu pos yang kemarin kami terima

Dan, kemarin tepat pada hari ulang tahun Kai, kami menerima 2 kartu pos yang sangat menggembirakan. Satu dari Andrew dengan pemandangan San Fransisco, serta satu lagi dari Legio Maria gereja Kichijouji yang memberikan selamat ulang tahun ke 6 kepada Ignatius Kai Miyashita. Ah, perhatian kecil seperti ini amat sangat menyenangkan hati.

kartu pos dari Andrew

Kamu pernah membeli dan mengirim kartu pos? Aku cukup sering membeli kartu pos, terutama jika tidak bisa atau tidak yakin hasil fotoku memadai. Paling tidak untuk koleksi.

 

 

Yudachi 夕立

Musim panas di Jepang memang tidak tertahankan. Panas sekali! Tapi mungkin yang membuat lebih tidak enak adalah kelembabannya yang tinggi. Kalau melihat pada bagan hygrometer di aplikasi teleponku… kelembaban 0-40% itu termasuk DRY atau kering, 40-60% itu COMFORT alias menyenangkan, dan di atas 60% itu WET, alias basah, alias lembab, sumuk segala kata pliket masuk ke dalam kategori itu. Jadi kalau pagi-pagi sekitar pukul 9 pagi sudah 80% rasanya menyebalkan sekali kan? rasanya ingin berkata…”Oooi kalau mau hujan, hujan sekalian dong!”

aplikasi hygrometer di HP ku

Hari ini Tokyo maximum 35 derajat. Aku terbangun pukul 2 pagi, dan dari kamar tidur ber-AC, aku ke dapur dan kamar makan. Duh tidak ada angin, sehingga aku pasang kipas anginku. Membuat minuman dingin, persiapkan air es, es batu, dan akhirnya karena tidak mengantuk juga, aku mulai masuk ke kamar belajarnya Riku. Ya kamar komputerku sudah kuberikan pada Riku, meskipun semua barangku masih di sana. sedikit-demi-sedikit aku membuang kertas dan barang yang sudah tidak diperlukan lagi, sampai fajar merekah pukul setengah 4, dan sampai pagi. Baru setelah aku mengantar Kai aku tidur siang di kamar ber-AC.

Hari-hari yang mulai sulit dilewati…. Sekitar pukul 5 sore, bunyi guntur mulai terdengar dan kilat terlihat di kejauhan. Ibu-ibu memasukkan jemurannya dan …. Yudachi! Hujan sore hari yang cukup keras turun. Senang juga sebetulnya karena berarti panas yang tersimpan sejak pagi, bisa didinginkan dengan guyuran hujan. Musim hujan di Tokyo sudah selesai, sudah musim panas, tapi masih akan banyak terjadi yudachi.Tapi yudachi ini relatif singkat sehingga bisa ditunggu sampai reda saja.

yudachi… hujan mendadak di sore hari

Waktu guntur masih bertalu-talu, sebuah email masuk dari kelurahanku. Rupanya memberitahukan bahwa akibat yudachi sore ini, ada beberapa daerah yang mati listriknya. Entah mungkin tersambar petir, atau lonjakan penggunaan yang tinggi, mematikan sumber listrik setempat. Aku jadi waswas dan mematikan AC yang kupasang supaya jangan rusak jika sampai terjadi pemadaman listrik di daerahku juga.

Satu kejadian pada waktu terjadi yudachi ini, yang akan selalu aku ingat. Yaitu waktu aku harus pergi mengajar sore hari pukul 6:30, dan sekitar pukul 5:30 tiba-tiba hujan yudachi ini turun. Aku memang lupa membawa payung, tapi mau membeli juga tidak ada toko di sekitar jalanan tempat ku berada. Soal baju basah kuyup apaboleh buat. Tapi yang menyebalkan, sepatu sandalku putus dan mengharuskanku mencari sandal atau sepatu lain di setasiun terdekat. Aku tidak bisa “nyeker” untuk pergi mengajar kan? 😀

Punya pengalaman tidak mengenakkan pada waktu turun hujan mendadak?

 

 

Tunggu Aku

IMG_4628

Istriku,
Tadi aku menyiram kebunmu yang selalu engkau rawat itu.
Bunga ajisai yang berwarna biru lebih banyak daripada yang berwarna pink loh.
Aku sempat menghitungnya. Sayangnya tadi aku terantuk akar pohon di pojok kebun dan terjatuh terduduk.
Aku tak bisa kemana-mana lagi. Hanya bisa memandang langit-langit dan menunggu waktu bertemu denganmu.
Aku juga sudah capai hidup 90 tahun. Tiga tahun tanpamu terasa sepi sekali.

 

63

Menikmati Kopi dan Omong Kosong

Coba bayangkan situasi ini. Kamu duduk bersama teman di beranda rumah, sambil menghadap jalan depan rumah. Ngobrol ngalor ngidul sambil menghirup kopi hitam. Kadang kala kamu berdua bercerita tentang mimpi, kadang tentang pengalaman masa lalu, kadang tentang teman-teman kalian berdua. Atau bahkan kadang sambil memetik gitar dan bernyanyi. Santai….

Aku senang membayangkan situasi seperti itu untuk bersantai. Ada unsur kopi, jalanan, cerita dan TEMAN. Teman itu bisa menjadi pendengar, atau pencerita atau obyek yang diceritakan.

Itulah yang aku temukan pada blog ACACICU.COM milik Bro Hakim. Masbro aku menyebutnya, dan sejak dia menikah pada bulan sebelas mengganti nama pada tampilan FBnya menjadi RZ HAKIM. Wuih pak Hakim nih 😀

Foto hitam-putih berasa sejarahnya ya 😉

Terus terang aku belum lama berkenalan dengannya, meskipun aku sesekali mengintip tulisannya karena aku lebih lama mengenal istrinya HANA atau prit, si api kecil. Tapi ada satu moment yang membuatku terharu. Ya, Masbro menulis khusus, menyinggung tentang kematian mamaku bulan Februari 2012 dalam blognya. Padahal aku tidak akrab dengannya! Tapi Masbro merasakan kesedihan ditinggal seorang ibu karena Masbro sudah terlebih dahulu ditinggal ibunya. Dejavu.

Aku pun kemudian membaca tulisan masbro sebelum tulisan tentang mamaku itu. Dan aku temukan kesamaan antara ibunya dan ibuku. Mereka berdua sama-sama “pianis”, yang mengalunkan “lagu-lagu” kehidupan yang  indah dengan tuts bersimbol alfabet itu. Ternyata kedua ibu kami piawai mengetik! Tapi keduanya juga menderita penyakit yang sama sebelum meninggal, stroke.

Mas bro yang punya Band bernama Tamasya!

Bro Hakim menulis blognya di URL www.acacicu.com berbasis blogspot pada tanggal 17 September 2010, hampir 3 tahun yang lalu. Tulisannya sebanyak 478 mungkin bisa juga dinilai sedikit, tapi Masbro juga mengelola beberapa blog yang lain. Template yang dipakai 3 kolom, sebuah template sederhana berawarna abu-abu. Hanya ada 3 halaman, yaitu About, Beranda dan Sitemap. Sidebarnya hanya diisi dengan tulisan anyar dan entri populer. Sudah, itu saja. Tidak glamour, tidak snobbish. Tanpa ada “pamer” Pagerank atau Alexa, padahal pagerank Acacicu sudah 3 loh, sama dengan Twilight Express. Alexa Traffic Rank: 663,619  Traffic Rank in ID: 51,723. Suatu angka yang hebat menurutku. Tapi melihat penampilannya? Pasti semua sependapat denganku bahwa blog Acacicu begitu sederhana. Sesederhana hidup dan cintanya terhadap musik, lingkungan dan sejarah daerahnya (serta tentu pada Hana, istrinya). Dan pendapatku pribadi, isi lebih penting dari penampilan! Sama seperti kata Masbro di sini: “Desain blog sangatlah penting. Dan isi atau tulisan, itu satu tingkat lebih penting dari desain blog.”

Penampilan Acacicu

Dengan membaca Acacicu, aku dibawa ke masa lalu dengan cerita sejarah Jembernya, dibawa menikmati musiknya dengan band tamasya, dan melihat kegiatannya dalam mengumpulkan botol bekas. Aku tersenyum waktu membaca alasan Masbro menjadi blogger, yaitu karena dia pelupa 😀 Tapi aku juga terharu dan gemas waktu membaca ceritanya waktu dituduh mencuri sandal.  Dengan manisnya Masbro juga sering menulis tentang teman-teman blogger dan orang-orang yang dia hormati. Bahasanya begitu teratur dan memakai bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ini pula yang membuat mengernyutkan kening ketika membaca judul tulisannya yang 4qu Cint4 Bah454 1ND0N35I4. Bukan gaya Masbro sama sekali, dan ternyata itu juga termasuk tulisan yang dilink ke blog Twilight Express, selain Sebab Mereka Senang Membaca.

Yang mungkin menjadi pertanyaan adalah kenapa bernama Acacicu? Awalnya kupikir acacicu merupaka singkatan sesuatu kata, atau ada hubungannya dengan Machu Picchu. Tapi setelah membaca di sini, aku baru tahu bahwa acacicu artinya omong kosong. Apakah Masbro kemudian menuliskan omong kosong dalam blognya? Dari yang kubaca sih tidak! Tidak ada yang omong kosong dalam 478 tulisannya. Memang meskipun acicuci bagi orang Jember berarti omong kosong, justru bagi Masbro : “Acacicu, bagi saya lebih seperti kicau burung di pagi hari. Menyambut Keagungan Tuhan dan tak pernah berhenti berdzikir. Acacicu seperti suara butir butir hujan, yang hanya bisa di dengar kemerduannya oleh siapapun yang mau meluangkan waktu untuk mendengar. Itulah acacicu saya.

Anda penyuka kopi? Atau penyuka sejarah atau bahasa Indonesia non alay? atau bahkan penyuka kesederhaan? Silakan berkunjung ke ACACICU…..

Artikel  ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Blog Review~Saling Berhadapan

Ketika Cinta (Blogging) Harus Memilih

huhuhu lebay sekali deh judulnya 😀 Tapi memang dalam beberapa hari ini aku sedang galau, gara-gara blog. Seperti diketahui aku mempunyai blog bertajuk Twilight Express dengan domain sendiri. Tentu saja dengan hosting sendiri, bayarnya memang tidak lebih dari 1 juta rupiah per tahun karena sudah beberapa kali upgrade kapasitas. Jumlah nominal yang kecil untuk beberapa orang yang memang mempunyai pemasukan dari internet. Tapi karena aku belum mau me-monitize blogku, maka jumlah itu cukup memberatkanku.

Masalahnya memang hampir setelah 2 tahun pindah hosting (ini yang ke 3) pasti akan terkena suspend berkali-kali karena dianggap mengganggu stabilitas pengguna hosting lain. Padahal menurutku pemakaian juga tidak seaktif sebelumnya, dan kalaupun membludak diperkirakan kalau ada tulisan baru dong, deh gitu lah yau!

Tulisan terakhir di sana tanggal 20 Juni. Padahal aku ingin sekali menulis banyak! Tapi kalau aku menulis baru, akan pengaruh lagi dengan trafik kunjungan dsb dsb. Terpaksa deh nahan 😀 Oleh pihak hostingnya dibilang aku harus upgrade dengan VPS, tapi sedangkan yang pakar IT saja, sahabatku si Jumria TIDAK menyarankan aku pindah VPS. Karena aku boleh dikatakan “amatir” atau istilahnya dia End User. Sehingga jika nanti ada apa-apa, aku tidak bisa menghandle sendiri cpanel (yang sebetulnya aku sendiri baru sedikit menguasai -akhirnya-). KECUALI aku menyerahkan pada pihak hosting, yang tentu harganya muahal (berlipat dari yang sekarang), atau aku tetap menyewa VPS di luar negeri, dan “menggaji” orang untuk memaintainnya. JIKA aku kaya mah, apa juga aku beli… kalau bisa beli perusahaan hosting sekalian hahahaha.

kan ngga gede-gede amat 😀 Udah pakai backup loh

So, terpikir untuk pindah hosting, tapi juga terpikir, jika pindah hosting PASTI akan berhadapan dengan masalah yang sama, cepat atau lambat. Salah satu kemungkinan yang paling cepat adalah pindah saja ke wordpress gratisan yang memang fiturnya terbatas, sehingga boleh dikatakan aku harus DOWNGRADE.

BUANGLAH SEJARAH MASA LALU….

Sambil berpikir untuk downgrade kembali ke wordpress gratisan saja yang memang sudah aku miliki, ada banyak alternatif yang bisa dicoba. TAPI pada akhirnya aku pikir terkadang memang kita harus melupakan masa lalu, masa kejayaan kita. Waktu berjalan terus, dan bukan jamannya lagi untuk mengagung-agungkan masa lalu.

Masa di mana aku menulis 1247 tulisan dengan 25.685 komentar, dengan theme yang kusuka putih bersih, dengan plugin favoritku ” Todayish in History” yang memungkinkanku membaca kembali tulisan yang kubuat pada tanggal yang sama sama 5 tahun ke belakang.

Apalagi tepat waktu hostingku bermasalah, seorang pembaca blogger setia, sahabatku sejak awal ngeblog mencapai angka komentar 1000 (dalam 5 tahun -1247 posting) berkat plugin “Top Commentator”. Terima kasih banyak untuk komentarnya ya mas NH18.

Ini dia urutan TOP commentator di TE

SEKALI LAGI SEJARAH! Kenangan 😦 

Untukku melupakan masa lalu itu berat! Apalagi sejarah adalah kesukaanku. Tapi aku harus berpikir praktis, karena otomatis karena kepalaku dipenuhi masalah hosting, aku tidak bisa move on, menulis terus. Padahal sahabatku Donny Verdian sampai berkali-kali menanyakan perihal blogku sambil menawarkan bantuan. Katanya, “after all, semoga mood blogmu semakin membaik apapun solusi yang kau percaya benar untuk ditempuh *halah* Hahahaha.. Go Imel, Go!”

dashboard terakhir 😦

Kalau aku mau kembali ke tujuanku ngeblog awalnya, memang hanya untuk menulis. Dan mungkin ini saatnya pula untuk bangkit, menulis lebih banyak lagi. Dan meminjam frase yang kukenal dari Gratcia Siahaan, “Write like nobody’s reading”. Sehingga kuputuskan untuk menulis di sini dulu, sambil aku mencari jalan terbaik untuk domainku. Toh aku sebetulnya baru saja membayar perpanjangan hosting dan domain, sehingga aku masih punya waktu 1 tahun berpikir (sayang sih karena otomatis aku membayar sesuatu tanpa menerima pelayanan). Mungkin akan kubatasi tulisan di sana sesedikit mungkin sampai 1 tahun, dan tulisan lamanya kutaruh di sini. Ntahlah, yang pasti aku harus menulis. Apalagi aku masih ada hutang tulisan kepada Masbro 😦 dalam GA nya pakde Abdul Cholik. Segera setelah ini aku akan mulai menulis…… masih ada 3 hari kan? 😀

Antara Boling dan Kepiting

Yang jelas Kepiting tidak bisa bermain boling ya 😀

Hari ini tanggal 22 Juni, selain merupakan hari ulang tahun kota Jakarta, di Jepang diperingati (baca dikenang) sebagai Hari Boling dan Hari Kepiting.

Hari peringatan boling memang ditetapkan oleh Asosiasi Lapangan Boling Jepang pada tahun 1972. Tapi ditentukan berdasarkan catatan sejarah bahwa pada tahun 1861 untuk pertamakalinya lapangan boling dibuka di perkampungan orang asing di Nagasaki dan termuat di surat kabar berbahasa Inggris “The Nagasaki Shoping List and Advertiser”.

Sedangkan Hari Kepiting ditetapkan oleh pengelola restoran Khusus Kepiting “Kani Doraku” yang berpusat di Osaka. Alasannya : Hari ini merupakan awal mula horoskop “Cancer” dan jika dibaca KANI (kepiting) huruf hiragana “ka か” berada di urutan 6 dan “ni に” di urutan 22. Jadi deh 22 Juni (6-22). Orang Jepang memang ada-ada saja 😀

**catatan : sempat termenung waktu menerjemahkan  ボウリング場… menjadi lapangan boling. Padahal kan tidak di lapangan ya? Boling lane? lane = lintasan? hmmm perlu diverifikasi lagi nih.

Sementara Twilight Express yang satunya sedang diberesi hostingnya, aku tulis di sini saja ya 🙂

Berlipat Ganda

Menurut blogrollku, aku sudah 4 hari tidak menulis posting baru. Sibuk? Ya memang, tapi biasanya aku akan mengusahakan sedikit waktu untuk menulis sedikit tulisan. Tapi rasanya kali ini aku mulai merasa malas. Mengapa?

Sebetulnya yang salah bukan dari diriku, dan ntah aku harus mengatakan siapa atau apa yang salah. Aku tak tahu apakah ada teman lain yang mengalami atau tidak, tapi ini merupakan kali kedua aku merasa kecewa. Kekecewaan pertama aku alami sekitar bulan Juni tahun 2010. Saat itu aku sudah memakai hosting dari Singapura dan harus merasa kesal karena blogku sering di suspend. Bukan karena belum bayar, tapi katanya, “Karena terlalu banyak kunjungan ke blog Anda yang memakai resource kami, sehingga pelanggan lain terganggu, dan kami harus menghentikan website Anda. Anda harus memakai server sendiri sehingga tidak mengganggu pelanggan lain”. Tapi server sendiri itu mahal sekali, sekalipun ada yang murah yaitu dengan VPS (Virtual personal Server)… tapi tetap saja tidak semurah menyewa hosting biasa. Akhirnya waktu itu aku dikenalkan oleh Ray Astho untuk memakai hosting kenalannya yang katanya “Cukup besar, sehingga kapasitasnya jauh lebih besar dan MUNGKIN bisa mentolerir pemakaian resource websitenya mbak Imelda tidak seketat hosting yang lain”.

Jadi aku sudah pakai hosting ini selama 2 tahun lebih. Tentu tanpa kejadian yang berarti, apalagi jika terjadi apa-apa, custumer servicenya standby selama 24 jam, dan langsung tanggap menangani keluhanku. Aku puas dengan pelayanan mereka, sampai sekitar 2 bulan yang lalu. Websiteku sering tidak bisa diakses, eror dsb dsb. Setiap kali aku menghubungi CSnya, dilayani dengan cepat TAPI disarankan untuk menyewa VPS sendiri. Padahal aku tahu untuk mengelola VPS itu tidak mudah, perlu tahu tentang server dan jika mau memakai jasa CS dari hosting yang biasa aku pakai ini, tentu harus membayar setiap transaksi masalah. Apalagi harga sewa VPS di situ berlipat ganda dari biaya hosting yang sekarang kupakai. Padahal kalau lihat dari performance blogku ini jauuuuuh lebih rendah daripada tahun lalu, atau 2 tahun yang lalu. Maksimum aku menulis 11 tulisan sebulan 😦 Pagerank hanya 3 dan alexa sudah jutaan. Benar-benar masalah hosting ini membuatku malas menulis. Karena setiap aku menulis sesuatu yang baru diperkirakan “banjir” kunjungan dan koit deh. Sepertinya aku akan menutup domain ini, dan mulai lagi dari bawah….jika aku masih ada keinginan yang kuat untuk menulis. Bisa memakai wordpress gratisan yang memang aku sudah punya beberapa seperti  http://coutrier.wordpress.com atau https://twilightexpress.wordpress.com atau http://usagigoya.wordpress.com tentu saja selain Twilight Tasogare yang merupakan blogrollku….loh ternyata banyak juga yang masih aku update ya hehehe. (ssst masih ada sih yang lain yg sedang hiatus).

Well, aku sudahi dulu “kegalauan”ku ini. Dan aku akan bercerita soal “Berlipat Ganda” yang lain.

Seperti sudah kutulis di beberapa tulisan yang lalu, deMiyashita sedang mencoba melaksanakan proyek keluarga untuk mengunjungi 100 Kastil  Terkenal Jepang. Tapi ternyata waktu juga yang membuat proyek ini dalam kondisi “jalan di tempat”. Hanya ada satu kali pada tanggal 2 Juni lalu, waktu aku sedang mengikuti Bazaar di gereja Meguro. Kai dan papanya mengunjungi sebuah situs bekas kastil di dekat rumah mertua di Yokohama. Karena sudah tidak ada bangunannya, Riku malas pergi dan tinggal di rumah.  

kecebong di kolam rumah mertua. bawah kanan : Kai di situs bekas kastil Kozukue, Yokohama

Kai tentu tidak lupa membawa jaring kupu-kupunya, TAPI karena sudah siang tidak banyak kupu-kupu yang terbang. Kebetulan saat itu mereka berdua bertemu dengan sukarelawan yang bekerja di sekitar situs tersebut. Sukarelawan itu heran juga melihat bapak anak ini mengunjungi tempat yang “tidak ada apa-apanya”. Lalu dia tanya pada Kai, “Kamu suka kumbang badak kabutomushi? Dan tentu Kai jawab suka. Lalu Kai diajak pergi mengambil larva kabutomushi dan mendapat satu karung penuh, kira-kira 50 larva. Duh duh duh waktu Gen bercerita begitu aku sudah bergidik membayangkannya, sedangkan Kai dengan “cool” nya mengambil satu dan memperlihatkan padaku… hiiii. Kata Gen dia mau membawa ke sekolah dan tanya guru-guru apakah mau menjadikan sebagai proyek monitoring murid-murid. Ternyata karena terlalu banyak, pihak sekolah juga tidak mau bertanggung jawab, sehingga terpaksa kami yang harus memelihara 50 larva itu. Kata Gen proses larva menjadi kumbang itu cukup menarik untuk diamati. Sedangkan setelah itu dia bisa saja bawa ke hutan dan buang.

OK, aku memang takut pada kumbang, tapi kok kasihan juga pada “bayi” kumbang ini. Jadi sekalipun ada beberapa larva pernah “lari”, dan aku pernah menginjak salah satunya…aku masih bisa sabar dan tahan. Sambil nyengir aku bilang, “Rasanya seperti menginjak udang :D”. Jadi aku selalu harus berhati-hati waktu menjemur pakaian di beranda, supaya jangan menginjak “bayi-bayi” itu 😀

Kai dengan satu kantong berisi sekitar 50 larva kumbang badak 😀

Tapi sebenarnya kami hanya memelihara 40 larva karena 10 yang lain diambil oleh teman-temannya Riku untuk dipelihara di rumah masing-masing. Dan ada satu temannya Riku yang mengambil 2 larva sambil membawa lobak, ketimun dan zucchini, hasil kebun dari ibunya. Nah waktu itulah gen mengatakan “Seperti Warashibe Chouja saja”. Eh, apa itu Warashibe Chouja?
“Kalian tidak tahu? Itu cerita rakyat Jepang loh”. Sehingga kami mencari cerita itu di net.

Dahulu kala ada seorang pemuda yang hidupnya selalu jujur tapi tidak beruntung. Teruuuus bekerja tapi tidak beruntung dan hidupnya miskin terus. Sampai pada suatu hari, dia berpuasa lalu berdoa kepada dewa. Menjelang senja, Dewa tampil di hadapannya dan berkata, “Keluar dari kuil ini, kamu akan jatuh dan memegang sesuatu. Bawalah itu pergi ke arah barat.”

Memang waktu si pemuda keluar kuil, dia jatuh dan memegang sebatang jerami. Dia pikir, apa sih gunanya jerami… tapi dia bawa itu terus ke arah barat. Kemudian ada seekor lebah terbang dan hinggap di jerami itu. Waktu sampai di kota, ada seorang bayi yang menangis terus, tapi begitu melihat jerami dan lebah, dia berhenti menangis. Ibu sang bayi kemudian memberikan 3 buah jeruk pada si pemuda. 

Pemuda itu kemudian membawa 3 jeruk ke arah barat dan bertemu dengan seorang gadis yang sedang kehausan. Si pemuda memberikan 3 buah jeruk dan sebagai gantinya dia menerima sehelai kain sutra. Waktu berjalan terus, dia bertemu dengan samurai dengan seekor kuda yang lesu. Begitu melihat sutra itu, samurai memberikan kudanya dan membawa sutra itu pergi. Pemuda kemudian merawat kuda itu dan kuda itu menjadi sehat. Bersama kuda itu dia pergi dan sampai pada sebuah rumah besar. Ternyata pemilik rumah itu hendak pergi menyepi dan menukar rumahnya dengan kuda si pemuda. Jadilah pemuda mempunyai rumah besar dan terkenal sebagai Warashibe Chouja. (Bagian akhir ada beberapa versi seperti si pemuda bertemu dengan orang kaya yang ternyata ayah dari si gadis pemberi jeruk, sehingga dinikahkan)

Intinya si pemuda menerima berlipat ganda dari apa yang dia berikan awalnya. Dari sebatang jerami menjadi sebuah rumah besar. Tuhan selalu membalas berlipat ganda. Dan yang dimaksud dengan Gen adalah Riku memberikan 2 larva kumbang, dan menerima jauuuuh lebih banyak : lobak, ketimun dan zucchini. Jadi seperti Warashibe Chouja.

TAPI untungnya 40 larva kumbang TIDAK AKAN berlipat ganda menjadi 80 kumbang ya… kalau berlipat ganda, bisa bisa aku tidak bisa tidur tenang terus deh hehehe.

Ada pembaca yang mau memelihara kumbang badak (seperti kumbang kelapa) ? 😀 Nanti aku kirim deh larvanya dengan EMS 😀

Antara Smartphone dan Daag

Telepon Pintar itu memang sudah menyebar luas. Hampir semua mahasiswa di tempat aku mengajar, memakai smartphone. Meskipun dalam kenyataannya aku masih banyak melihat wanita dan sebagian pria yang tidak berstatus sebagai mahasiswa/karyawan yang  memakai telepon biasa non smartphone. Aku sekarang memang memakai smartphone dan awalnya aku merasa “hebat” karena dengan satu gadget itu kita bisa menelepon, chatting, bermain, mengambil foto, browsing dsb. Padahal sebelumnya, pakai telepon biasapun sebenarnya sudah bisa. Tapi kecepatan koneksi internet yang ditawarkan memang mengagumkan sehingga layaknya aku membawa sebuah komputer kecil bersamaku (aku belum mempunyai iPad). Kekurangannya cuma satu: kecil. Maklum mataku sudah mulai rabun karena faktor u. 😀

Ada satu hal yang aku pelajari dari ibu-ibu, mamatomo, ibu-ibu di TK dan sekarang menjadi kebiasaanku juga. Yaitu waktu membaca pengumuman yang ditulis guru TK di papan. Dulu aku selalu menulis di catatan. Tapi begitu aku melihat trend baru ibu-ibu, mereka tidak lagi menulis tapi memotret papan pengumuman itu. Dengan smartphone, sangat mudah membesarkan foto sehingga sehingga hurufnya bisa terbaca, tanpa harus memindahkan ke komputer. Segala informasi yang penting, tinggal foto saja. Beres!

Semakin aku terbiasa dengan smartphoneku, semakin aku terbiasa memotret semua informasi itu. Praktis dong. TAPI aku sempat kesal dua kali oleh smartphone di tangan mahasiswa.

Aku pernah menulis status di FB:

Sedang memeriksa test bahasa Indonesia, dan aku tertawa (kecut) mendapati jawaban seorang mahasiswa dari pertanyaan: 私のカバンは重いです (Watashino kaban wa omoidesu). Iseng kutanya pada Riku, apa terjemahannya. Lalu dia berkata, “Aku punya rucksack berat!” wow… padahal aku tidak pernah mengajarkannya, meskipun jawaban yang benar, “Tas saya berat”. TAPI jauh lebih bagus dari jawaban muridku, “Nama saya berat” hihihi.
(Langsung masuk blacklist deh. Hei….kemana saja waktu aku jelaskan?????)

dan sebenarnya selain daripada tidak adanya perhatian dia waktu aku terangkan, ada pula jawaban yang memakai kata-kata bahasa Indonesia yang belum pernah aku ajarkan. Hmmm kok bisa dia menjawab seperti itu ya? Lalu aku coba masukkan kalimat yang harus diterjemahkan ke dalam google translator dan bingo! Jawabannya persis seperti yang dia tulis. O o o kamu ketahuan memakai google translator dalam smartphonenya untuk menjawab test! Dan parahnya ada 3 mahasiswa yang jawabannya plek sama!

Memang susah mengontrol begitu banyak mahasiswa dalam satu kelas. Tapi dari lembar jawabannya aku sudah tahu bahwa mahasiswa ini memakai smartphone dalam menjawab. Jelas aku kesal dan marah, sehingga minggu berikutnya aku menceritakan hal itu di depan kelas dan langsung mengatakan, “Kerjakan test dengan jujur. Pasti ketahuan kok. Dan jika pada test berikutnya ada lagi kejadian seperti ini saya akan mengurangi nilai mereka yang memakai smartphone. Usaha sih boleh, saya lebih suka kalian buka buku dan cari jawabannya di buku daripada di smartphone. Itu artinya bukan kalian yang belajar tapi si smartphone yang belajar”.

Hal kedua yang membuatku kesal, baru terjadi tadi siang. Waktu aku menyuruh semua mahasiswa untuk membaca, aku melihat ada seorang mahasiswa yang melihat kertas fotocopy temannya. “Oh dia tidak punya fotocopynya ” pikirku dan aku mau berikan dia satu lembar. Tapi sebelum aku sempat memberikan fotocopy itu, aku melihat dia mengambil smartphonenya dan memotret kertas fotocopy temannya. Sambil meneruskan pelajaran, dalam dada ini berkecamuk apakah aku perlu menegurnya atau tidak. What the heck! Aku biarkan saja, selama dia bisa mengikuti pelajaran dan menjawab pertanyaanku. TAPI sebetulnya lain kan mereka yang belajar dengan membaca lewat kertas dan yang membaca lewat smartphone. Jika ada kertas, mereka bisa mencatat, memberikan tambahan arti sendiri, sehingga mereka bisa BELAJAR dan pada akhirnya bisa menjawab test. Foto lembaran yang di smartphone tidak bisa ditambahkan dengan catatan-catatan, dan aku tidak yakin dia akan buka kedua kalinya 🙂 Selain itu kalau dia memandang smartphone dan ditegur, dia bisa jadikan alasan bahwa dia sedang membaca foto itu. Jaman memang berbeda! Jauh berbeda berkat kecanggihan teknologi. Dan kurasa dalam waktu dekat pihak universitas perlu membuat peraturan mengenai smartphone, atau dosennya yang harus mengubah pola mengajar atau membuat testnya. Seperti seminggu lalu akhirnya aku membuat test lisan, dan yang tidak bisa menjawab…pass (lewatkan) deh. NOL! Tidak bisa juga diterapkan mengumpulkan smartphone sebelum kuliah dimulai layaknya anak SD, karena sudah pasti diprotes, selain juga makan waktu untuk mengembalikannya. Smartphone di kampus sudah mulai membuat banyak masalah. 😦

Tapi di antara kekesalan atas tingkah beberapa mahasiswa, aku masih senang karena masih ada mahasiswa yang benar-benar mau belajar. Seorang mahasiswa yang rajin tadi bercerita bahwa dia membuat daftar kata-kata baru sendiri dengan komputer dan mencetaknya, lalu menempelkannya di kamar, di WC, di pintu kamar mandi (persis daftar perkalian dsb untuk anak SD :D) supaya bisa belajar dan menghafal. Mendengar ceritanya aku merasa senang dan menghargai usahanya. Dan teman-teman yang duduk di sekitarnya (ada 4 orang) memang termasuk mahasiswa yang aktif dan pintar. Selain itu mereka juga yang selalu memberi salam terakhir dengan “Daag!” 😀 Waktu mendengar pertama memang aneh rasanya, karena meskipun memang aku ajarkan bahwa orang Indonesia pakai “Daag” dalam percakapan, selama 20 tahun mengajar di Jepang belum pernah ada yang berkata “Daag” padaku. Jadi geli juga dan ingin kuperingatkan bahwa jangan pakai daag kepada orang yang lebih tua atau kurang akrab…….tapi ah aku kan masih muda :D. Just enjoy it 😉

Bagaimana cara teman-teman belajar bahasa asing supaya cepat hafal? Apakah pernah menempel daftar/tabel kata-kata di dinding?