Setiap tahun 30.000 orang bunuh diri

[Pindahan dari Multiply] Apr 26, ’07 10:28 AM for everyone

Setiap tahun jumlah orang Jepang yang bunuh diri 30.000 orang dan jumlah ini merupakan 4 kali lipat jumlah kematian yang disebabkan kecelakaan lalu lintas. Untuk itu dirasakan perlu secara aktif membuat kegiatan pencegahan bunuh diri sebagai masalah nasional. Jumlah orang bunuh diri jika dibandingkan jumlah penduduk 100.000 jiwa didapat angka 24 , dan angka ini merupakan angka tertinggi kedua setelah Rusia, dalam negara-negara yang tergabung dalam G8. Dalam laporan WHO diketahui bahwa 95% orang yang bunuh diri mengalami depresi atau penyakit mental lainnya, akan tetapi, yang pernah membawa permasalahan (curhat) nya ke dokter/ atau teman hanya sedikit sekali. Karena itu jika masyarakat sekitarnya mengetahui tentang penyakit si korban, bisa juga mengetahui tanda-tanda bahwa seorang akan bunuh diri, maka jumlah orang yang menjadi korban semestinya bisa ditekan.

Pemuda berusia dibawah 30 tahun menempati 10% dari jumlah orang yang bunuh diri. Terutama pada masa puber yang masih labil kejiwaannya, perlu diajarkan pentingnya hidup dan juga pencegahan untuk mengakses situs-situs yang mengajak bunuh diri bersama dll.
Finlandia juga pernah mencapai angka bunuh diri yang tinggi yaitu 30, namun berkat usaha pemerintah sejak tahun 1990 angkat tersebut dapat ditekan menjadi 22. Pemerintah Finland mengadakan analisa terhadap keluarga dari orang yang bunuh diri, serta menyebarkan pengetahuan mengenai depresi kepada masyarakat awam, dan hasilnya cukup menggembirakan.

Aku pernah menonton sebuah film, lupa judulnya. Sang bapak karena stress kerjaan, bunuh diri, dan sebelum itu dia tulis “surat” berisi , Karena saya sudah menyusahkan orang, maka lebih baik saya bunuh diri. Aku langsung bilang, duh nih orang, dia malah tambah bikin susah anak, istri, keluarga lain dan masyarakat sekitar dengan dia bunuh diri.  Yang pasti bunuh diri memang tidak menyelesaikan masalah. Di Jepang banyak terjadi bunuh diri dan yang trend adalah lompat ke rel kereta api yang sedang melaju. Akibatnya kereta terhenti, dan merugikan semua penumpang yang sedang/akan naik kereta tersebut. Apalagi kalau Jalur kereta itu adalah jalur padat. Aku pernah naik kereta sesudah kereta yang melindas tubuh si korban dari stasiun sebelumnya. Dan waktu sampai di stasiun TKP persis dibawah kereta aku masih banyak petugas stasiun berkumpul. Hiiii berarti persis di bagian bawah gerbongku itu… Untung bukan kereta yang aku tumpangi yang nabrak. Tapi aku salut dengan petugas stasiun di Jepang. Maksimum 1 jam mereka bisa “membersihkan” korban dan tempat kejadian. Bahkan sudah ada beberapa line yang terkenal sebagai tempat bunuh diri (karena keretanya cepat) dan petugas di sana bisa rekor membersihkan tempat tsb dalam 30 menit. Karena sebetulnya yang namanya “membersihkan” kan bukan hanya mengangkat mayat, tapi juga harus mengikuti prosedut kepolisian untuk bisa menentukan apakah orang itu benar bunuh diri atau kecelakaan atau bahkan pembunuhan. Makanya aku paling takut berada di baris pertama (yang terdekat lajur kereta) waktu menunggu, takut ada orang gila yang dorong kita masuk ke rel kereta.

Sebetulnya masalah utama dari persoalan ini ya kembali lagi ke masalah pendidikan rohani. Orang Jepang dikatakan tidak mempunyai agama. Ada agama Shinto atau Buddha tapi mereka tidak ‘beribadah’ dan menjadikan agamanya sebagai pelarian jika mendapati masalah. Lah wong orang hanya mendatangi kuil Shinto kalo mau kawin, atau minta jimat. Lalu ke kuil Buddha kalau mau ada upacara pemakaman dan peringatan arwah. Jadi untuk sehari-harinya kemana? Yahhh ke tempat kerja dan karaoke, minum-minum deh. Orang Jepang baru bisa membuka dirinya kalau sudah minum (dalam pengaruh alkohol) atau jika pergi ke pemandian umum HOT SPRING bersama. Karena dianggap di hot spring, mandi bersama dalam keadaan telanjang (tentu saja sesama jenis….tapi yang campur ada juga sih, tapi pake handuk biasanya) membuat orang dapat bercerita sedetil-detilnya juga tentang masalahnya. Karena itu saya pernah ditanya, “bisa minum-minum ?” saya jawab “bisa”. “Bisa masuk onsen (hot spring)” “Tentu saja, saya suka sekali berendam air panas”. lalu dia berkata. “Kamu sudah menjadi orang Jepang”. Dan memang jumlah teman orang Jepang saya lebih banyak daripada teman orang Indonesia.

Mudah-mudahan di sekeliling aku tidak ada orang yang sampai berpikiran untuk bunuh diri. Atau berpikiran boleh tapi jangan sampai melaksanakannya.

 

kawaichouchou
kawaichouchou wrote on Apr 26, ’07
Dohh..jgn sampe di eluarga2 kita or orang yg deket kita ya mbak,,,Jepang sekarang gitu..cepet putus asa juga mereka..:(hiks

pmanurung
pmanurung wrote on Nov 14, ’07
Trims ceritanya, baru tahu Jepang, Finlandia, Rusia punya problem ini. Mungkin kecuali Rusia, Jepang & Finlandia adalah negeri yang makmur.

Ngomong-ngomong, apakah Jepang termasuk “welfare state”, ya?

tribalis
tribalis wrote on Aug 28, ’08
manusia terlalu skeptis
kembali kepada sang pencipta
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s