Nasi Menjadi Bubur

Sedikit intermezo di pagi hari yang mendung di Tokyo, setelah kemarin turun salju. Dinginnya masih menusuk sampai ke tulang, sehingga malas untuk pergi ke luar rumah. Lebih menyenangkan tinggal dalam rumah yang hangat sambil makan yang panas-panas.

Nah kebetulan aku ada satu wadah berisi nasi kering. Ya karena di sini dingin, sering kalau lupa dibiarkan di luar, nasi cepat sekali menjadi kering. Belum lagi sisa-sisa nasi anak-anak yang tidak termakan. Biasanya nasi yang masih bersih aku kumpulkan dalam satu wadah tupperware dalam lemari es. Kebetulan pagi ini, waktu aku memeriksa lemari es, masih ada bayam, mitsuba (daun seperti kemangi di Jepang, bisa juga pakai mizuna) waluh, singkong dan jagung kaleng (kalau musim dingin tidak ada jagung segar). Jadi deh nasi keringku menjadi bubur manado (bubur tinutuan) . Bumbunya bubur tinutuan itu sebenarnya apa sih? Kalau aku paling suka yang gampang yaitu hanya garam dan…. daun kunyit. Ternyata daun kunyit itu yang menentukan bau bubur itu harum dan rasanya enak. Kalau pakai daun sereh terlalu pedas. Karena itu aku selalu ada persediaan daun kunyit dalam freezer.

from deMiyashita's Kitchen

Tapi bubur manado itu belum lengkap kalau tidak ada sambal dan ikan asin! Untuk ikan asin aku lebih suka ikan jambal roti atau ikan gabus. Padahal orang manado asli mungkin pakai ikan roa ya. So, yang suka makan bubur manado, masak sendiri aja! (Menjawab reply nya Nique di postingnya “Kerupuk Getas“.

Tongcai yang sering dipakai untuk bubur ayam. Kalau lihat kanjinya ya artinya : Sayur (Musim) Dingin

Selain bayam yang harganya melangit di musim dingin, waluh dan ubi banyak dan murah. Kecuali sawi putih yang memang banyak dipanen, semua sayur yang berdaun memang naik harganya di musim dingin. Jadi biasanya untuk mengatasi kekurangan hasil panen sayur, orang Jepang banyak memakai acar dan sayur yang dikeringkan. Aku sendiri baru tahu di sini bahwa sayur kering tongcai 冬菜yang biasa dipakai untuk bubur ayam terbuat dari  sawi putih yang diacar sampai warnanya berubah…dan asin sekali.

Sayur beruang yang kubeli di "Loker Sayur" sistem penjualan tanpa penjaga. Masukkan 100 yen, padahal harganya kurang dari seratus yen, jadi oleh si empunya ladang uang kembaliannya diselotipkan pada plastik sayur itu. Praktis!

 

 

Iklan

27 comments on “Nasi Menjadi Bubur

  1. kalau saya makan tongcai itu sama bakso kak.kadang sampai ditambah berulang2. resep tongcai ap sih kak?.

    tongcai itu sama seperti acar. Karena ini buatan pabrik aku tidak tahu mereka pakai apa, tapi biasanya kalau bikin acar sawi putih itu pakai cuka dan garam sebanyak-banyaknya. lalu ditekan/ditindis batu sepaya kandungan airnya hilang. Semakin kering semakin bagus. Jadi bisa tahan lama juga. Hati-hati jangan terlalu banyak pakai tongcai karena kandungan garam sangat tinggi. Bisa darah tinggi loh
    EM

  2. cara jualan sawinya keren amat 😀
    di sini mah kaga ada
    seringnya klo kembalian malah ditawarin micin ato apalah hahahaha

    jadi gampang ya bikin bubur menado?
    tapi udah 2minggu ini males ke dapur
    jadi bikinnya tar2 aja deh
    sekarang cukup ngeces dulu huehuehue

    hahaha, di sini mah kembali 1 yen aja tetap berbentuk uang, bukan permen atau micin! 😀
    Ya sudah santai aja. Kapan lagi ngga usah ngebabu di dapur hehehe
    EM

  3. Kalao di si Daerahku di Malang,,, sayuran murah banget,,,sayangnya yang kualitas premium malah di bawa ke Taiwan, so daerah Poncokusumo Malang malah sayuran murah tapi yang kualitas nomer 2…hihihihihi.. jadi pengen masak tongchai..ngomong-ngomong masaknya mirip Kimchi Korea ga ya??

    Kalau kimchi korea pakai cabe, kalau tongcai ngga pake cabe. Dan kita tidak bilang “masak” kimchi, tapi “acar”. Karena tidak pakai api, cuma dibiarin aja.
    EM

  4. Di Malang malah lagi musim hujan,,,jadi paling enak bikin sup juga ,,,tadi pagi masih masak botok tempe ama tahu nich mbak imel…btw di Jepang ada tempe ga ya??? Indonesia tanpa makan tempe kan berasa gimana gitu,,,

    wah botok… aku jarang makan sih tapi suka. Tempe ada di sini tapi mahal satu potong harganya 35rb rupiah 😀
    EM

  5. oh, pakai daun kunyit ya? kalau daun kunyit sih selau ada yg segar karena di halaman depan ada tanaman kunyit. bisa dicoba kalau begitu. tinggal cari sambal roa aja kalau begitu 😀

    Ngga ada sambal roa juga bisa pakai sambal lombok goreng. Kalo aku sih cuma cabe+bawang merah digoreng pake jelantah +garam+terasi+gula jawa dikit. Goreng sampai kandungan airnya habis, lalu diulek.
    EM

  6. Menggoda sekali bubur manadonya mbak Imel. Gak pakai santan ya ? Mbak maaf mau nanya nih, yang dimaksud waluh itu yg bentuknya mirip echima ya ? Terus, daun mitsuba (atau matsuba ?) bisa dijadikan pengganti kemangi utk pepes juga ? Trims mbak.

    Bubur manado ngga pernah pakai santan. (Aku malah ngga ingat apa ada masakan menado bersantan?)
    Waluh itu labu a.k.a pumpkin. Daun mitsuba ngga bisa dijadikan pengganti untuk pepes. Pepes kalau mau sama dengan yang di Indonesia susah! Yang paling dekat mungkin daun ketumbar dan ada di Jepang, karena dipakai untuk masakan Thailand.
    EM

  7. Bubur …???
    Aaahhhhaaaa … ini makanan yang NH friendly …
    cocok untuk saya …
    cocok untuk Gigi saya … Hahahaha

    Tapi saya belum pernah merasakan Bubur Menado nih …
    enak nggak ya ???

    Salam saya EM

    Masak belum pernah makan bubur menado? Kalo bibir menado? hihihi
    Enak mas, healthy seperti makan bubur bersayur aja.
    Mau aku buatin?:D

    EM

    • haduh bibir menado? hahaha..
      bubur sehat yang bisa mendorong pemulihan kesehatan nich Om. Saya penggemar tinutuan, tapi belum pernah bikin tinutuan. Setahuku jg tidak pakai santan dan daun kunyitnya memang berpengaruh ke rasanya. Jadi kangen masakan mama nich!

  8. Aku mau komen soal dauh kunyit, Nechan…

    Daun kunyit adalah salah satu unsur penting dalam masakan Minang. Merebus daun singkong akan terasa lebih maknyus kalau pake daun kunyit. Di Jogja ternyata daun kunyit sama sekali tidak dipakai, sehingga sulit mencarinya di pasar. Makanya, kami terpaksa menanamnya di rumah. Belakangan aku ketemu dgvseoarang pemilik warung makan padang di Jogja. Demi memenuhi kebutuhan akan daun kunyit, ia pun punya kebun khusus untuk itu.. 🙂

    Bubur Manado? Hmm.. Belum pernah coba. Kapan-kapan cobain ah.. Ada warungnya yg aku pernah lihat di Jogja, cuma belum pernah mampir… Tapi pasti lebih asyik kalau makan bubur Manado di Tokyo ya? Hehehe… 🙂

  9. Lucu banget cara beli sayurnya, dan kembaliannya itu loh! Haha. Bagaimana kalo ada pembeli yang punya uang pas, dan pas itu saja dan tidak cukup 100 yen. Hehe. Lucu ya..

  10. Bubur pas musim dingin emang wajib! Kalo ibu mertua pas di sini, ia sering masak bubur yang enakkk banget… tapi kalau pas nggak ada ya kita beli bubur di chinesse food meski harus antri kedinginan 🙂

  11. Kagum dengan kreativitas dapur nya yang mengalir terus, tetap bisa menikmati bubur menado di Tokyo. Ikan roa kering, hm… kerasnya dan enak sekali ya. Salam

  12. tinutuannya kurang daun gedi mbak… hihihi…

    enaknya dingin2 makan bubur manado…hehe.. 😀

    Kai dan RIku suka nggak mbak makan bubur sayuran seperti itu? kalau dirumahku yg doyan aku doang, suami dan vania nggak mau.. hiks.. sedihnya…

  13. Aih..mba Imel kreatif sekaliiiiii….
    Nasi sisa…aku mah paling banter jadinya cuman nasi goreng doang dengan bumbu seadanya…

    Nah lho…daun kunyit?
    Dapurku amat sangat tidak lengkap toh mba…isinya cuman bawang merah ama bawang putih doang…hihihi…

    btw…aku pernah makan bubur menado…tetangga ada yang bikin dan kita makan rame rame…
    Rada aneh juga kok isinya macem macem gituh…tapi enak juga yaaaa…

    btw, aku pikir tongcay itu asalnya dari wortel lho…soalnya warnanya orange…salah ya???

  14. Sudah lama tak makan buibur Manado, dulu suka bikin di rumah….
    Kalau di manado, makannya pakai rempeyek dari ikan Nike (Ikan kecil-kecil yang ada di danau Tondano).

    Hmm baca tulisan ini jadi pengin buat bubur Manado.

  15. Kebetulan ada tanaman kunyit di luar. AKu coba ah… ternyata salah satu rahasianya daun kunyit ya. TFS mbak.
    Oh iya, kalo musim dingin gini para ternak makan apa, mbak? Jadi penasaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s