Guru SD

Tadi pagi aku membaca status di beberapa teman waktu SD dulu. Mereka menuliskan tentang meninggalnya seorang ibu guru yang memang khas sekali, bernama ibu Dien. Meskipun aku tidak pernah diajar langsung olehnya, aku masih ingat sosok seorang ibu kurus, tinggi dengan rambut digelung seperti konde. Aku tidak tahu usianya sudah berapa tahun, tapi jika aku SD 30 tahun yang lalu mestinya memang sudah sepuh. Hmmm hukum alam memang tidak bisa dipungkiri, manusia memang setiap saat bertambah tua. Rest in Peace Ibu Dien.

Bicara mengenai guru SD, hari ini aku pergi ke SD Riku karena ada acara open school. Setahun 2-3 kali ada kesempatan untuk melihat langsung proses pembelajaran murid-murid di sekolah, dan harinya acak. Pernah juga diadakan pada hari Sabtu/Minggu supaya bapak/ibu orang tua murid yang tidak bisa datang di hari kerja, bisa juga datang dan melihat perkembangan serta proses belajar anaknya di kelas. Dan menurutku itu WAJIB.

Tadi pagi dimulai dengan rusuh. Karena Riku mencari-cari jangka dan penggaris segitiganya yang akan dipakai pada jam pelajaran ke 3. Memang dia sudah tanya aku sejak hari Jumat, tapi karena aku juga sibuk sambil cari juga, dan kemarin aku lupa cari. Jadilah pagi-pagi bongkar sana-sini… tentu sambil ngomel, “Makanya alat-alat tulis wajib untuk sekolah itu harus diumpetin jangan sampai Kai ambil dan main-main. Apalagi jangka kan tajam, bahaya….. bla bla bla”….. Tetap tidak ketemu, dan Riku bilang, “Kalau tidak ada ya sudah ma, ngga papa. Tapi mama datang ya….” Dan meskipun aku sedang sakit kepala, aku memang berniat datang, sebelum jam ke 3 supaya bisa membelikan jangka dan penggaris segitiga. Jam ke 3 mulai jam 10:25, dan toko-toko buka jam 10. Jadi cukuplah waktu untuk mencari jangka itu.

Setelah mengantar Kai ke TK, aku mencari toko-toko yang buka, sekitar 3 toko tapi tidak ada dan akhirnya aku pergi ke supermarket yang agak jauh dari rumah. Di situ pasti ada, jadi aku bersepeda ke sana. Syukurlah ketemu dan aku cepat-cepat beli kemudian ke sekolahnya Riku. Pas jam istirahat antara jam ke 2 dan 3. Aku serahkan jangka dan penggaris pada Riku dan Riku amat berterima kasih. Dia memang mirip aku yang selalu merasa bersalah jika ada sesuatu yang tidak beres, semisal lupa membawa sesuatu atau lupa mengerjakan sesuatu.

Nah, pelajaran ke 3, Berhitung dimulai. Orang tua yang datang masih sedikit 3-4 orang saja. Kami berdiri di belakang kelas dan mengamati. Dan saat itulah aku memperhatikan satu anak laki-laki yang……. begitu nakal. Tempat duduk di jungkirbalikkan, dan dia duduki, atau sesekali dia berdiri, berjalan-jalan dan mengganggu teman laki-laki di belakangnya. Dia memasukkan tempat pensil dsb nya ke dalam baju temannya itu. Sementara guru menerangkan di depan. Memang ada beberapa anak lain yang tidak memperhatikan guru, tapi mereka masih duduk. Si anak X ini saja yang sama sekali tidak memperhatikan. Disuruh menyiapkan buku catatan, dia tidak bawa. Jadi dia mengambil kertas di depan kelas, yang memang disediakan untuk anak-anak yang tidak bawa. Di depan kelas ada tumpukan kertas dalam laci, spidol, pensil, rautan, pokoknya semua perlengkapan yang bisa dipinjam oleh anak-anak yang tidak membawa.

Tapi, si X ini tidak mencatat apa-apa di kertas itu. Pelajaran hari ini tentang menemukan segitiga dalam lingkaran. Dan dia malah melubangi  kertasnya, fotocopi tugas dia remas-remas dulu sebelum dikumpulkan. Duuuuuh benar-benar minta dihajar ini anak. Gurunya memang menegur, tapi di Jepang memang tidak bisa sembarangan menegur, apalagi memukul, mencambak, atau perlakuan apa saja yang mengenai badan. Kelihatan sekali si guru juga sudah kesal sekali, sehingga setengah menganggap anak ini tidak ada. Sampai ada ibu Filipin yang bertanya, “Anak itu siapa sih? Kok nakal sekali? Ibunya datang?” Lalu dijawab oleh murid lain, “Dia gakudo!”

Gakudo, adalah semacam tempat penitipan bagi murid-murid SD sesudah pulang sekolah sampai pukul 5 sore. Untuk memasukkan anak ke Gakudo, ibu/orang tuanya harus bekerja minimal 16 jam seminggu, dan mendaftar ke kelurahan. Aku sendiri bekerja tidak sampai 16 jam seminggu, sehingga aku merasa tidak bisa memasukkan Riku ke Gakudo. Jadi begitu dikatakan bahwa si X adalah anak gakudo, aku bisa mengerti bahwa ibunya bekerja. Tiap hari hanya bertemu waktu malam hari, kurang waktunya untuk bisa berinteraksi dengan anaknya. Dan memang di kelas Riku ada beberapa anak yang Gakudo, dan semuanya memang “hiper” jika tidak bisa dikatakan nakal. Tidak mau memperhatikan guru, bicara sendiri, jalan-jalan waktu pelajaran dan lain-lain. Tadi aku melihat si X ini, aku bersyukur, meskipun aku bekerja juga 3 kali seminggu, aku masih ada waktu dan sedapat mungkin hadir di acara-acara sekolah. Masih ada waktu untuk bermain dengan anak-anak sepulang sekolah, dan makan malam bersama. Seandainya aku bekerja ten-go, belum tentu aku bisa menghadapi anak-anak di rumah dengan santai.

Tadi aku mengikuti jam ke 3 Berhitung dan jam ke 4nya Musik. Ampun deh, itu anak-anak yang sama, biang kerok kelas juga yang selalu buat ulah. Untuk mulai menyanyi saja tidak bisa dalam keadaan diam dan hening. Saat ini aku ingat pada Pak Cheppy, guru angklungku dulu. Berapa tongkat dirigen yang patah karena beliau pukulkan ke papan tulis. Aku yang memang anak alim dan patuh yang selalu diam jika disuruh diam, sering heran pada teman-teman yang tidak mau mendengar guru. Kadang pak Cheppy marah kepada anak lain, tapi aku yang deg-degan dan ikut mau nangis. Karena itu waktu aku melihat si X dan teman-teman Riku yang seperti itu, aku juga jadi kesal sendiri. Riku? Dia tidak ramai tapi kurang perhatian. Karenanya setiap dia melihat ke arahku, aku tegur dia supaya memperhatikan guru. Nanti kalau dia pulang, aku akan minta dia lebih perhatikan jalannya pelajaran!

Dan dengan melihat proses pembelajaran di kelas itu tadi, aku benar-benar menghargai para guru SD. Duh, jika aku yang jadi guru, mungkin setiap hari satu kotak kapur terbang ke jidat anak-anak itu, atau aku hukum berdiri satu kaki di sudut kelas! Aku tidak bisa jadi guru SD deh. Salut dan hormatku untuk semua guru SD….

Selesai ditulis 12:50 dan pukul 13:05 pelajaran ke 5 Murid-murid memperkenalkan buku yang dibacanya (Bahasa), serta pelajaran ke 6 tentang mata pencaharian masyarakat sekitar(IPS). Pergi dulu yaaaaa…..

Iklan

16 comments on “Guru SD

  1. Guru TK dan Guru SD. Salut, deh. Kudu sabaaaarr..banget. Kemarin nonton TV, ada berita tentang anak yang lumpuh akibat dibanting ala WWF sama gurunya, Mbak. Penyebabnya ‘hanya’ karena si anak enggak ngerjain PR. Ngeri banget yah…

    Semoga di Indonesia juga segera ada Undang-undang yang melarang guru-guru melakukan kekerasan pada anak didiknya kayak di Jepang itu. Kapan yaaaa?

  2. waduhhh itu yg bikin rusuh jadinya anak yg dititipkan orang tuanya y mba?
    emangnya ga bisa ya dibuatkan kelas sendiri gitu?
    daripada ngganggu anak2 yg mesti belajar ‘kan

    saya juga salut kok sama guru2 SD kok mba
    pun belum tentu sanggup harus menghandle anak2 dengan beragam ulahnya 🙂
    padahal dulu sempat punya cita2 jadi guru lho hehehe

  3. Aku pernah jd guru SD mba EM, walopun hanya untuk kelas tambahan. Dan memang betul2 ujian kesabaran, salut memang untuk beliau-beliau itu..

    Idem sm Kak Niq, kenapa para siswa gakudo itu ga dipisahkan aja kelasnya? kasian kan Riku dan teman2nya yg lain 😦

  4. Aku selalu kagum dengan kunjungan orangtua ke sekolah ala Jepang ini..
    Semoga suatu saat aku bisa menerapkannya. Siap-siap aku tanya-tanya lebih banyak tentang ini ya Nechan, hehe… 🙂

  5. duh, para guru SD dan TK ini memang manusia2 istimewa ya Mbak EM
    karena tanpa kesabaran yg tinggi, gak mungkin beliau2 ini mampu menghadapi bermacam karakter anak2 di kelas .

    Penghargaan yg setinggi2nya utk Beliau 2 ini ……. 🙂
    salam

  6. sepertinya anak yg tidak punya relasi bagus dengan orang tuanya, memang punya kecenderungan jadi biang kerok. aku jadi penasaran, apakah anak2 di panti asuhan di sini juga jadi biang kerok?

    dulu kalau ada anak yg nakal di kelas, guruku akan melempar kapur. kalau sudah begitu, aku jadi takut deh padahal aku nggak pernah nakal. ada juga tuh guruku yg suka mukul pakai penggaris kayu yg panjang. aduuuuh, kalau itu aku bisa keringat dingin deh! :((

  7. mbak EM, apakabar? lama pu tidak berkunjung kemari.
    membaca tulisan mu di atas aku jadi kuatir dg anak sendiri, akankah anak2ku akan seperti itu juga? mengesalkan memang jika menjadi guru u murid yg tak mau diatur apalagi ini sudah sd, bukan tk lagi. mereka sudah seharusnya diajarkan yang benar, jika tak mau dikasi tau ya dihukum tentu lebih baik agar bisa segera mengerti. Pu selalu berupaya mbak agar bisa dan mampu memberi perhatian pada anak2 di rumah krn mrk yg utama bagi kita sbg ibu bukan? salut bgt ama mbak em yg berjuang penuh u anak2. salam pu mbak EM. mudah2an kapan2 kita bisa ketemu dan share ya.

  8. Alhamdulillah, di sekolah anak2 ada juga pogram kunjungan…tajuk kegiatannya OBSERVASI
    Setuju sama mbak, kita WAJIB memanfaatkan kesempatan ini.
    Agar kita juga paham apa2 yg kiranya terjadi dgn anak2….

    selama ini, kuamati ortu yg sering komplen…justru ortu yg jarang dateng ke acara2 yg macam itu….

  9. Itu anak yang rakudo, kasian banget ya. Tapi aku kurang suka ah kalau dibilang biang kerok, kesannya gimanaaaa gitu. Sekali lagi menjadi bukti bahwa kualitas anak dan orang tua berdampak kepada perkembangan psikologi dan mentalitas seorang anak ya, bu…

  10. mungkin aja memang ada anak yang dasarnya hiperaktif gitu kalik ya,
    suka ngerecokin , makanin bekal teman2,

    di SD ini juga masanya anak menjadikan guru sebagai idolanya,
    guru ke mana2 diikuti, setiap ketemu guru malah guru langsung dipeluk, kulihat ini di sekolahnya anak2
    anak perempuan yang biasanya manja sama ibu gurunya

  11. Ibu aku guru sd mbak.. emang luar biasa sabar ngadapin anak seperti aku ini yg jarang banget nurut kalau dikabari.. hehehehe..

    Seru yak ada kegiatan seperti itu mbak.. kalau aku pasti sering negok kebelakang minta uang jajan sama ibu.. 😀

  12. pengajaran yang partisipatif..sy ambil hikah dr cerita ini..adalah terkait pola pengajaran yang melibatkan orang tua.pola pengajaran seperti ini sangat efektif, jd guru dan orang tua mempunyai hubungan dekat dan bisa saling sheriang terkait perkembagan belajar si anak..klo saja ni diterapkan di Indonesia, bs jadi mjd solusi unutk mengurangi kekerasan yg dilakukan guru oleh muridnya..krn faktor penyebab anak nakal biasanya krn dr pendidikan yg diajarkan dr keluarga/kadua orang tuannay.

  13. Hmm bagiku guru SD yang paling berat, karena meletakkan dasar-dasar pendiidkan anak..tak hanya mengajar namun juga mendidik.
    Dan yang sulit, kalau di Indonesia saat ini, orangtua cenderung menyalahkan jika anaknya nakal, padahal anak-anak ketemu gurunya hanya beberapa jam.

    Syukurlah di Jepang ada waktu, dimana orangtua bisa melihat cara belajar mengajar di kelas. Dan ini bisa membuat orangtua introspeksi, apakah anaknya termasuk anak yang bisa diam memperhatikan, atau anak yang hiper, atau anak yang pendiam? Sehingga kalau terjadi masalah, bisa dideteksi lebih dini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s