Kerja bagi penyandang cacat

Kemarin aku pergi berbelanja di supermarket. Karena masih sore dan aku tahu Riku di rumah bersama Kai, aku berkeliling melewati rak-rak yang ada sambil mengingat-ingat bahan apa saja yang tinggal sedikit/sudah habis. Kemudian aku ingat bahwa aku perlu membeli mustard. Riku senang sekali makan susis pakai mustrad, dan yang ada di rumahku sudah tinggal sedikit.

Waktu aku mencari di rak spaghetti aku melewati dua orang petugas supermarketnya yang sedang mendorong satu dorongan berisi kaleng-kaleng. Kelihatannya satu yang senior, dan yang mendorong adalah Yunior. Karena melewati aku, sang senior berkata: “Maaf mengganggu”. Dan kujawab, “iie”…. Kemudian aku dengar sang senior menegur si yuniornya karena dia tidak berkata apa-apa. Lalu yunior itu berkata “Maaf mengganggu” tapi bukan ke arahku (tidak menoleh). Dan si senior menegurnya, “Harus lihat ke pembeli!”. Dan si yunior berbalik badan menghadapku, dan berkata, “Maaf mengganggu”.

Buatku tidak menjadi masalah. Dan aku melihat sepertinya memang si yunior agak kurang cerdas (kalau tidak layak dikatakan “terbelakang”).

Kemudian aku menuju rak sebelahnya dan berjalan terus, tidak menemukan mustard yang aku cari. Sampai aku bertemu lagi dengan petugas yang sedang mengatur barang di rak. Kupikir, ya sudah daripada aku muter-muter tidak ketemu, lebih baik aku tanya. Dan….

“Saya cari mustard, ada di mana ya?”
Si petugas bengong, “Mustard”, sambil menunjuk nunjuk tak jelas. Waaaah petugas ini pun agak terbelakang. Dan tahukah Anda bahwa seseorang terbelakang sering labil, tiba-tiba berubah mimik dan tindakannya. Dia terlihat panik dan bingung. Jadi aku berkata, “Ooooh di sana ya? OK nanti saya cari di sana”.

Agak kesal, tapi mau bagaimana. Dan ternyata aku menemukan mustard itu di deretan rak dekat tempat aku bertemu dua petugas senior-yunior tadi. Mereka masih ada di sana, dan kelihatan tidak ada perkembangan kerja si yunior.

Ini membuat aku berpikir. Memang Jepang amat baik. Mereka selalu memikirikan kesejahteraan warga. Bahkan warga yang cacat atau terbelakang. Untuk membuat mereka mandiri, perlu diberikan pekerjaan. Memang aku sering melihat bahwa penyandang cacat terbelakang itu sebenarnya tenaganya besar. Jadi bisa dimanfaatkan untuk mengangkut-angkut barang di supermarket. Tapi tentu saja pekerjaannya tidak bisa hanya mengangkut saja, pasti harus melakukan pekerjaan lain. Nah, ini yang memerlukan kesabaran… amat besar.

Senior itu harus bertahan dan sabar menyuruh ini itu kepada yuniornya. Entah kapan mereka bisa menguasai job descriptionnya. Dan konsumen tamu juga harus bisa mengerti jika ada petugas supermarket yang begitu. Pengertian sangat dibutuhkan oleh semua pihak. Memang susah menyediakan pekerjaan untuk untuk kaum cacat.  Perlu ekstra pengertian.

Iklan

3 comments on “Kerja bagi penyandang cacat

  1. Ngajarin yang normal aja setengah mati, gimana mereka ya mba?
    Sudah pasti saya nyerah duluan tuh 😦
    Dan bisa jadi karena alasan itu pula tempat2 publik di Indonesia belum memberdayakan mereka ya …. ?!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s