Backward or Rewind

Segala musibah yang bertubi-tubi bagi bangsa Jepang ini memang masih menjadi topik pembicaraan di mana-mana. Tadi pagi aku sempat membaca bawa ada sebuah  Thermal power station di daerah Ibaraki yang berhenti pada waktu gempa sudah bisa beroperasi kembali, sehingga kemampuan listriknya bisa memenuhi daerah Ibaraki. Sedikit demi sedikit Jepang mulai menggeliat bangkit.

Selain itu ada pula berita yang menyejukkan dari sisi perekonomian. Ternyata banyak orang yang berkunjung ke daerah gempa dan membeli barang-barang produksi daerah Tohoku. Bukan itu saja, banyak toko satelit dari 3 prefektur itu di Tokyo yang ramai dikunjungi pembeli. Karena dengan membeli barang produk daerah lokal, bisa membangkitkan perekonomian daerah itu. Yang pasti orang Jepang tidak berpangku tangan.

Dan malam hari tadi aku sempat menonton sebuah acara musik dadakan selama 3 jam yang bertujuan untuk memberikan semangat pada pengungsi di daerah bencana. Artis-artis top menyanyikan lagu mereka sambil memberikan pesan pembangkit semangat. Ada pula pembacaan fax dari pemirsa, terutama dari warga Kobe yang 16 tahun lalu mengalami gempa bumi. “Kami korban gempa bumi 16 tahun lalu dan masih hidup. Kami yakin Anda semua juga bisa tetap hidup seperti kami”. Lalu ada pula sebuah fax yang dikirimkan oleh penonton di pengungsian Kesannuma, daerah terparah oleh tsunami. Sayang sekali aku tidak begitu mendengar isi faxnya bagaimana karena Kai ribut sekali waktu itu. Tentu saja acara ini dimaksudkan untuk mengumpulkan sumbangan yang dipoolkan ke Palang Merah Jepang. Tidak ada sms di Jepang, jadi tidak ada sistem mengirim sms.

Di antara lagu-lagu yang dinyanyikan, kebanyakan memang lagu-lagu lama. Yang bertemakan “You are not alone” (aku langsung pasang lagunya MJ deh sambil menulis posting ini), “Daijobu” (Tidak apa-apa). Dan ada sebuah lagu yang dibawakan Makihara Noriyuki yang berjudul “Tooku tooku” (1992)

Meskipun terpisah jarak yang begitu jauh
Buatlah saya mengetahui kabarmu
Kusambut hari gemilang dengan sekuat hati
di kota ini

Lagu-lagu yang bagus, yang banyak menguras airmata juga. Seakan me-rewind CD tahun 1990-an. Yah kurasa memang kadang kita perlu merewind kisah kita, kisah negara kita, guna melihat kembali sejarah. Dari situ banyak yang bisa kita pelajari, sehingga bisa maju lagi ke depan.

Cap tangan dari Indonesia yang membentuk bulatan bendera Jepang, di depan Kedutaan Besar Jepang di Jakarta sebagai solidaritas dari rakyat Indonesia (foto dari KB Kyodo)

Sekarang mungkin Jepang harus backward dulu sedikit, untuk membereskan kerugian yang terjadi akibat gempa. Dengan kekurangan listrik juga misalnya, perlu kita berpikir dua kali jika ingin memakai peralatan listrik. Yang pasti aku mengurangi banyak pemakaian microwave. Kalau bisa menghangatkan makanan dengan kompor gas, mengapa harus pakai microwave. Kalau bisa mengeringkan rambut dengan handuk, kenapa harus pakai hairdyer. Kalau bisa mencuci baju dengan tangan kenapa harus pakai mesin cuci (kalau sedikit lohhh, kalau banyak aku juga belum sanggup deh) . Kalau bisa gelap-gelapan uang, kenapa harus berterus terang,…..ups kalimat terakhir  ini harap dihapus saja hehehe.

Rewind dan Backward boleh saja untuk beberapa hal, tapi yang paling penting semangat hidup harus terus maju, forward. Seperti pidato salah satu murid lulusan SMP di Kesennuma (daerah tsunami terparah) pada upacara kelulusan mereka, “Cobaan Tuhan kali ini sungguh berat. Dalam kondisi yang buruk begini, jangan menyalahkan Tuhan, bertahanlah pada nasib, saling menolong untuk tetap hidup. Ini adalah tugas kita”. Perkataan anak lelaki ini benar-benar bisa menjadi pembawa semangat orang-orang untuk tetap maju.

Anak-anakku dengan bunga Magnolia

Ada rangkuman 10 hal yang dapat dipelajari dari Jepang yang ditulis oleh temanku  Zay, cukup bisa membuat aku bangga pada Jepang, meskipun aku bukan warga negara Jepang (mewakili Riku dan Kai yang wn Jepang deh hehehe) :

1. KETENANGAN

Tidak satupun visual luapan kesedihan berupa memukul mukul dada atau kesedihan yang membabi buta. Kesedihan itu sendiri telah terangkat ke tempat yang lebih tinggi.

 

2. MARTABAT

Disiplin antrian untuk air dan bahan makanan. Tidak ada kata kasar atau sikap kasar. (Aduuuh aku terharu banget deh sama pengungsi yang selalu menunduk bilang terima kasih …terima kasih…. “Kami merepotkan Anda”…hiks)

 

3. KEMAMPUAN

Rekayasa yang luar biasa, misalnya. Bangunan bergoyang namun tidak rubuh.

 

4. RAHMAT

Orang hanya membeli apa yang mereka butuhkan untuk saat ini, sehingga semua orang bisa mendapatkan sesuatu.

 

5. KETERATURAN

Tidak ada penjarahan di toko-toko. Tidak membunyikan klakson dan tidak menyalip di jalan (biasanya sehari-hari juga tidak soalnya). Hanya pemahaman (pengertian-understanding).

 

6. PENGORBANAN

Lima puluh pekerja tinggal di tempat untuk memompa air laut ke dalam reaktor-N. Bagaimana jasa mereka dapat terbayar?

 

7. KELEMBUTAN

Restoran memotong harga (iya ini aku juga kagum….justru menurunkan harga loh). ATM meski lengah dari penjagaan namun tidak ada yang mengganggu. Mereka yang kuat peduli untuk yang lemah.

 

8. PELATIHAN

Tua, muda dan anak-anak, semua orang tahu persis apa yang harus dilakukan. Dan mereka-mereka melakukan yang seharusnya dilakukan (ini berkat latihan yang sudah kutulis).

 

9. MEDIA

Mereka menunjukkan pengendalian yang kuat dalam pemberitaan. Tidak ada perilaku konyol dari wartawan. Hanya reportase yang tenang dan membumi (Mereka benar-benar taat pada UU Press mereka).

 

10. HATI NURANI

Ketika daya listrik meledak (maksudnya mungkin mati lampu) di sebuah toko, orang menaruh kembali barang-barang di rak dan keluar dengan tenang!

 

Iklan

16 comments on “Backward or Rewind

  1. Kena Bom Atom aja bisa bangkit dengan cepat, saya yakin Jepang akan bangkit lagi dengan lebih cepat karena mereka punya budaya kerja yang luar biasa dan berkeyakinan tinggi terhadap yang mereka lakukan sehingga memancarkan energi yang sangat positif….

  2. Teringat saat ke pasar, di kios cemilan, si abang penjual kesal karena para pembeli nggak sabaran, minta duluan bayar.
    Kata si abang : ibu-ibu, contoh dong orang Jepang, udah kena musibah, udah mau mati, masih tertib ngantri.
    Terkejut si abang ngomong gitu, tapi benar juga. Budaya antri Jepang memang patut dicontoh.
    Setuju kak, semangat untuk maju harus tetap ada.

  3. Saya percaya, Jepang akan bangkit dan justru lebih maju.
    Dan akan lebih bisa mengatasi problem gempa selanjutnya, karena Jepang dan Indonesia adalah negara yang sama-sama akan sering terjadi gempa.Semoga Indonesia juga bisa belajar dari Jepang, cara mengatasi masalah dan saling bahu membahu. Saya sendiri melihat bahwa bangsa kita bisa bekerja sama, bahu membahu, saya melihatnya saat ada erupsi Merapi..juga (dalam skala kecil) saat adik saya harus dirawat di RS.

  4. Semoga kita semua bisa belajar dari Gempa Jepang ini. Dan semoga juga semangat orang2 Jepang yang pantang menyerah menular pada kita-kita yang sering tergoda untuk menyerah.

  5. “Tidak satupun visual luapan kesedihan berupa memukul mukul dada atau kesedihan yang membabi buta. ”

    Perlu belajar dari kalimat ini,
    karena di Indonesia cara demikian teramat sering terjadi dalam menghadapi musibah (apapun).

    Dan dari 10 poin yang di-share mba Imelda, kok rasanya kami di Indonesia masih jauuuuuh dari itu semua yah? 😦

  6. Tuhan Sudah berencana atas Semua, dan Kita manusia harus selalu siap pada segala keadaan baik dan Buruk. jadi tak perlu menyalahkan TUhan.

    Saya Suka sikap orang jepang jika mati lampu dan meletakkan kembali barang-barang di rak.

    Memang sangat berbeda dengan kita di Indonesia, dan banyak faktor yang mempengaruhinya.

    Tetap semangat ya mbak EM 🙂

    salam sayang

  7. ya, Jepang sdh sgt modern di semua aspek baik kehidupan, budaya dsb… Indonesia hrs blajar dr Jepang meski masa lalu menyisakan kepedihan bila melihat sejarah penjajahan Jepang di RI.

  8. sungguh terkagum kagum dengan cara masyarakat Jepang menghadapi musibah ini….

    dan pers nya juga emang bener bener TIDAK memperkeruh suasana ya mba…

    Dan satu lagi…
    bener bener gak ada budaya MENIMBUN…
    beberapa kali aku baca di postingan mba…
    hanya membeli barang yang dibutuhkan ajah…
    Mungkin karena udah ada rasa percaya ama pemerintah juga kali ya mba 🙂

    *Ingat waktu jaman susah sembako di Indo…heudeuh…segala gula dan beras pada ditimbun2*

  9. Salam kenal ya Mbak Imelda. Saya suka baca blog nya (mungkin bakal terus mampir) 🙂
    Salut sama poin pertama, ketenangan, yang sulit sekali didapat di Indonesia ini. Sedikit2 panik 😛 Banyak yang perlu dicontoh dari orang2 Jepang. Thanks untuk ceritanya mbak.

  10. mbak kupikir, bangsa yg besar tampak bukan saat dia berhasil, tapi di saat dia terpuruk. dg begini, terlihat betul kalau Jepang adalah bangsa yg besar. 🙂 perjalanan Indonesia masih panjaaaaang sekali utk sampai spt itu tampaknya. btw, biar katanya di Jepang sedikit orang yg beragama, toh bisa teratur dan dapat menangani bencana dg lebih baik dibanding dg negara yg katanya warganya beragama ya? 😉 salut deh dengan Jepang…

  11. Oh mbak..aku cuma mau bilang ini, ya…

    Meskipun terpisah jarak yang begitu jauh
    Buatlah saya mengetahui kabarmu
    Kusambut hari gemilang dengan sekuat hati
    di kota ini

    *peluk*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s