Bukan siapa-siapa?

Kalau dia bukan siapa-siapamu, kenapa kau memikirkannya? Kenapa kau menangisinya? Sampai tiga hari air mata mengalir setiap teringat padanya, dan tertundalah tulisan ini yang semestinya aku publish hari Sabtu lalu, sebagai persembahanku padanya.

Aku dan dia terpaut hampir 50 tahun! Kupanggil dia Oma Poel. Dia bekerja di kantor yang sama dengan papa dan mamaku dulu, di BPM, cikal bakal Pertamina sekarang. Dan kami tinggal di sebuah kompleks milik perusahaan minyak itu. Rumahnya persis di belakang rumahku. Berbentuk town house, kami share halaman belakang yang sama, yang dipakai untuk menjemur pakaian.

Aku si Barendtje Donderkop, di halaman tempat jemuran yang memisahkan rumah kami.

Waktu kulahir, dia ikut gembira menyambutku. Dan menyambut gembira setiap aku yang masih balita “menyeberang” ke rumahnya. Aku diberikan julukan khusus olehnya, Barendtje donderkop…. kepala botak yang kerjanya mondar-mandir.

Terkadang dia mengajakku pergi ke rumah temannya. Dan katanya aku selalu bersikap manis, tidak nakal, mau dengar-dengaran …pokoknya tidak memalukannya. Bahkan ceritanya yang terakhir, aku sempat tertidur lelap di rumah temannya itu, begitu enak tidurku, sehingga temannya berkata, “Sepuluh anak seperti begini, aku juga mau jaganya”

Yang pasti tangannya banyak menghasilkan baju-baju untukku. Sejak aku kecil, sampai aku SMP dia selalu menjahitkan bajuku. Sampai dia menyerah dan mengatakan “silakan beli saja”, kecuali untuk  seragam sekolah SMAku.

Dia juga yang membantu membuat kebiasaan keluarga kami untuk selalu mengikuti misa di gereja setiap hari ulang tahun anggota keluarga, lengkap atau tidak lengkap. Baik yang ulang tahun hadir, atau tidak.

Dia pula yang menangisi aku waktu aku bisa melampaui masa krisis pasca operasi usus buntu waktu aku berumur 13 tahun…….. Dia ada di setiap hari-hari besarku, kecuali waktu aku menikah. Ya, aku telah membuatnya kecewa tidak bisa membantu mempersiapkan misa dan lagu untuk misa pernikahanku karena dilaksanakan di Tokyo. Dia juga sudah terlalu tua untuk datang ke sini.

Dia bergembira karena anak pertamaku lahir persis seminggu setelah hari ulang tahunnya. Dan dengan bangganya menggendong Riku waktu ulang tahun pertamanya dirayakan di Jakarta. Ah… itu sudah 7 tahun yang lalu.

Bersama Riku meniup ke ultah dengan lilin 82 - 1 karena beda seminggu saja HUT nya

Tapi tanggal 19 Agustus 2010 yang lalu,  dia masih menyempatkan datang ke rumah di Jakarta khusus untuk bertemu denganku, sebelum kepulanganku ke Tokyo tanggal 22 Agustus. Saat itu dia berpesan padaku ada dua hal:
1. “Imelda kalau mau kasih uang pada Oma. Jangan ketahuan yang lain ya…. Nanti mereka tahu aku ada uang. Aku yang musti bayar taxinya.” Sambil tersenyum-senyum aku jawab saja, “Iya oma…..” karena dia berbicara dengan suara keras, di depan semua orang. Bagaimana bisa tidak ketahuan orang lain coba? Dan dalam hati aku bertekad, memberikan uang padanya, dan uang taxi pada tante yang turut serta.
2. “Imelda…kamu jaga badan kamu! Sudah bagus begini. Jangan lebih gendut dari sekarang ya… ” Dan aku cuma tertawa… “Iya oma….” sambil peluk dan cium pipinya yang keriput. Ah….aku ingat 4 tahun yang lalu dia masih berpesan padaku untuk “membuat” adik untuk Riku, untung tahun ini dia tidak berkata…bikin cucu perempuan dong….hehehe.

Dan hari itu aku bertanya padanya, “Oma mau makan apa?” Dia dulu suka kalau aku buatkan onabe, rebusan segala macam ikan, daging, sayuran. Tapi kali ini dia minta sate ayam (sebetulnya sudah dia katakan pada kedatangan sebelumnya tanggal 2 Agustus). Jadi aku dan mama menyuruh asisten RT beli sate ayam depan RSPP untuk makan siang, dan minta dipisah bumbu kacangnya. Dia tidak boleh makan bumbu kacang, karena maagnya tidak bisa terima lagi.

Dan aku juga terharu pada mamaku. Saat itu dia menyiapkan bubur untuk oma Poel. Aku tidak tahu bahwa Oma sudah tidak bisa lagi makan nasi. Mama bersikeras masak bubur, dan menggorengkan ikan bandeng untuk Oma. Jadi siang itu oma makan bubur + sate ayam yang tanpa saus kacang + ikan bandeng goreng yang aku suwir-suwir untuknya (and ikan itu enaaak sekali, karena aku sempat mencicipnya). Senang sekali melihat dia makan banyak, meskipun tante Ina, keponakannya yang mengantar agak mengomel….. “Nanti kalau kebanyakan maag nya sakit lagi…”

Aku dan mama mungkin sudah merasa, bahwa kami harus memenuhi permintaan Oma Poel. Mama termasuk peka terhadap hal-hal begitu. Kami berempat makan bersama di meja makan, sambil aku menahan tangis. Dia berulang kali mengatakan, “Imelda terima kasih makanannya enak sekali. Ini makanan yang terenak selama ini”. Duhhhh…. makanan yang “biasa” saja untuk kami yang muda dan sehat, tetapi istimewa untuknya. Yang memang tidak bisa lagi makan yang lebih enak atau lebih mahal….meskipun sudah kutanya mau apa. Apa saja akan kubelikan, seberapapun mahalnya. Tapi yang dia minta hanya sesuatu yang sederhana…. Sate Ayam. Ah betapa aku sering tidak bersyukur bahwa aku masih bisa menikmati semua masakan. Aku tidak ada larangan makan ini itu, karena tidak punya penyakit yang menahun misalnya. Apa saja masih bisa, meskipun aku tahu di kepulanganku tahun ini, aku tidak selera makan sama sekali. Selain (mencari) sate padang, tidak ada keinginanku untuk makan sesuatu yang lain. Kemana wishlist aku? (Dan waktu kubicarakan pada Gen, kami berdua sepakat bahwa kami sudah TUA….. tidak /sudah jarang ingin makan ini itu)

Sebelum Oma pulang ke rumahnya di Ciater naik taxi, aku sempat memergokinya duduk sendirian di sofa depan patung Maria di ruang tamu kami. Dia “ngoceh” tidak jelas, dan aku tahu dia berdoa, sambil bernyanyi, tapi tidak jelas di telingaku. Aku menjadi sedih lagi, seorang yang sudah tua, sudah tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Sudah “terbuang” dari percakapan orang muda…. mungkin hanya bisa bicara sendiri. Dan untungnya iman Oma yang kuat membawanya pada berdoa dan bernyanyi. Sering kita melihat orang tua yang sering berbicara sendiri, dan mungkin anak-anak menganggap orang gila…. tapi bukannya itu ekspresi hati mereka? Ah … aku ingin duduk di sebelahnya dan mendengarnya bercerita, tapi kali ini dia tidak suka bercerita. Dia hanya menyuruh aku melihat buku album fotonya….

Ya album foto itu dia bawa setiap kali datang ke rumahku. Dan aku HARUS melihat album foto itu, yang sebetulnya isinya adalah foto-foto kami. Foto aku, gen, riku, kai, papa mama, novi, tina semua keluarga di Jakarta. Ah…kenapa aku tidak mengerti saat itu apa yang ingin dia sampaikan ya? Dia mungkin hanya ingin mengatakan, “Lihatlah  foto-foto ini yang selalu menghibur aku di kala malam. Di kala aku rindu kalian…..”

Benarkah aku tidak mengerti?

Tidak… aku sudah merasa. Aku tahu dan dia tahu. Bahwa waktunya sudah tidak ada lagi. Sudah cukup. Tapi dia tidak sedih, tidak menangis. Dan aku … berusaha tidak menangis di depan dia. Beberapa kali aku harus membuang muka dan menahan tangisku. Hanya saat terakhir aku mengantarnya ke dalam taxi. Aku memeluk dia erat-erat… tanpa suara…tanpa pesan…. tanpa kata-kata, “sampai tahun depan ya”…

Sampai hari Jumat lalu, tgl 3 September. Seharian aku merasa sedih. Sempat bercakap dengan Ria dan Kika lewat YM, dan aku juga sempat berkata pada mereka bahwa aku sedih. Ntah apa tapi perasaanku tidak enak. Sampai puncaknya aku menangis waktu melihat tayangan malam di televisi, mengenai gereja-gereja di Nagasaki. Ah, aku rindu aktif kegiatan gereja lagi. Mungkin sudah saatnya aku memulainya.

Aku tertidur setelah mendongengkan Kai dan Riku. Tiba-tiba pukul 2 pagi aku terbangun. Dan seperti biasanya aku melihat email lewat HP. Dan saat itu aku melihat pesan dari Novi adikku di FB 3 jam sebelumnya, bahwa Oma Poel kritis di RSPP. Aku langsung terbangun dan menyalakan komputer. Terlambat! Oma Poel sudah meninggal pukul 9:30 malam (11:30 waktu Jepang).

Ah, Oma…. kamu tetap kuat sampai terakhir, masih bisa jalan sendiri. Tapi badan manusia memang ada akhirnya. Setelah pendengaran yang melemah bertahun yang lalu, Maag-mu sudah tidak bisa bekerja menerima makanan. Karenanya kamu dirawat di RSPP sejak kamisnya. Dan menurut cerita papa, papa dan mama masih sempat bertemu kamu Kamis itu dan berdoa bersama. Papa sempat membisikkan: “Jangan takut!” dan kamu sempat berkata, paling senang dikunjungi keluarga kami.

Oma Poel memang tidak ada hubungan darah dengan kami. Dia juga tidak menikah. Dan entah dia pernah cerita atau tidak kepada orang lain, tapi dia pernah bercerita padaku alasannya tidak menikah. Kekasihnya tidak kembali waktu perang …mungkin waktu perang dengan Jepang, aku tidak berani tanya lebih jauh. Cintanya tidak tergantikan. Ah, betapa murni cintanya itu. Dan dia mempersembahkan hidupnya untuk membantu kegiatan gereja terutama setelah pensiun dari pertamina. Lebih dari 30 tahun yang lalu, bersama kepala sekolah SMA Tarakanita, memimpin paduan suara CAVIDO (Cantent in Viis Domine) , yang terdiri dari pemuda pemudi Katolik yang bersekolah di Tarki dan PL. Terus berdiri memimpin setiap minggu, dan mempersiapkan partitur lagu yang akan dinyanyikan dalam misa. Sudah berapa orang “lulusan” Cavido ini, tidak ada yang pernah menghitung. Aku, Novi, dan Tina juga termasuk dalam paduan suara itu…setidaknya sampai aku pergi ke Jepang.

Dan pada misa requiemnya, yang dilaksanakan hari Sabtu lalu begitu banyak anak Cavido yang berkumpul dan mendoakan kepergian Oma. Oma tidak mempunyai anak kandung, tapi Oma adalah Tante/Oma kita semua. Oma diantar ke peristirahatan terakhir dalam suasana sederhana dan khidmat. Tapi kami semua tahu, doa dan hati kami semua selalu untuk Oma…. Oma kami…. Tante/Oma Pauline Fernandes.

Benarkah kamu bukan siapa-siapa?

Kamu adalah seorang wanita yang kuat dan menjadi teladan kami semua. Bagi kami, kamu bukan hanya pemimpin koor, bukan hanya tetangga, bukan hanya teman kerja, bukan hanya umat paroki, bukan hanya seorang kenalan! Kamu adalah oma kami semua, dan yang pasti Oma Poel akan selalu ada dalam hatiku. Maafkan cucumu ini yang sering tak berkabar, yang sering menggodamu, becanda dan berkelakar. Tolong doakan kami semua yang masih ada di dunia sini ya Oma. Anak-anak Cavido hanya bisa mengantarmu dengan lagu-lagu yang engkau senangi waktu pemakaman. Semoga Oma disambut di sana dengan paduan suara yang indah, seindah hidupmu selama 89 tahun ini.

Dan aku hanya bisa bergumam, sambil berdoa rosarioku. Lagu kesayangan kita berdua: Di kebun (In the Garden, Jim Reeves etc)

Aku berjalan di kebun
waktu mawar masih berembun
dan kudengar lembut suara
Tuhan Yesus memanggil

Dan berjalan aku dengan Dia
dan berbisik di telingaku
bahwa Aku adalah milikNya
Itu saat bahagia….

Sampai Jumpa Oma Poel Fernandes (18 Februari 1921 – 3 September 2010).

I love you…..

Sayaaaaaaang sekali…..

.

.

. terima kasih atas “dorongan” Liona Lee untuk menuliskan posting ini secepatnya. Semoga bisa mengusir rasa bete kamu ya…

Iklan

36 comments on “Bukan siapa-siapa?

  1. Mbak Imelda … Turut berduka cita atas kepulangan dari seseorang yang teramat begitu berarti buat Mbak. Membaca postingan ini saja air mata ayu bercucuran, begitu sayangnya Mbak Imelda akan Oma Poel. Semoga Oma tenang alam disana.

  2. Ya ampun, aku bacanya sedih.. pernah juga punya Oma kesayangan.. sebenaranya Omanya teman.. beliau sering mendendangkan lagu O Donna Clara kalo aku main ke rumahnya.. dan ketika diberi tahu, kalo Oma sudah ga ada..aku ikut sedih.. padahal ga ada hubungan darah.. tapi aku juga sayang padanya..

    Turut berduka cita buat Oma Poel.. semoga Oma bisa senang di sana.. bertemu kembali dengan kekasihnya tercinta.. Aminn..

  3. K’ Imel… turut berdukacita, tapi aku percaya sekarang Oma udah ada di Surga bersama Bapa 🙂
    I wish my life’s inpiring as hers…

    GBU, kak 🙂

  4. turut berbela sungkawa Mbak atas kepergiannya…
    semoga ia ditempatkan yang baik oleh Sang Khalik….
    dan semoga Mbak diberikan ketabahan….

    saya membaca postingan ini jadi merinding…
    mengingatkan saya pd orang dicintai di dalam arwah….

  5. She may rest in peace, I believe heaven is her place now.
    Diberkatilah hidupnya, sudah menjadi berkat untuk orang lain disekitarnya, berbahagialah Imelda sekeluarga karena telah mengenalnya, mengasihinya dan sudah menjadi bagian dari orang-orang yang dikasihinya.

  6. Selamat jalan Oma Poel…
    Buat Mbak Em…
    Emang banyak orang yang bukan siapa2 kita tapi kedekatannya pada kita sama seperti saudara sendiri…
    Termasuk ketika kita jauh dengan saudara, orang2 seperti Oma Poel itulah saudara kita…
    Semoga kita ketemu “saudara2” kita yang lain, meski bukan siapa2 kita…
    Salam!!!

  7. Mbak Imel, saya mengucapkan bela sungkawa, ikut merasakan kesedihan Mbak Imel atas perginya seseorang yang begitu berarti dalam hidup Mbak. Dari cerita Mbak Imel dan foto Oma Poel, saya serasa mengenal beliau juga …

    Semoga Oma Poel tenang di tempat istirahat abadinya …

  8. Dear Imelda,
    Thank you for sharing your wonderful memories of Oma Poel with us.

    “When someone you love becomes a memory, the memory becomes a treasure.” ~Author Unknown

    Love,
    Marian

  9. hiks….aku nangis…aku lg di kantor saat ini, aku kangen sm ibuku di rumah…kesehatan ibuku juga seperti Oma…7 tahun yang lalu masih gemuk dan kuat…sekarang karena diabetesnya, jadi bertambah susut berat badannya dan lemah jalannya….kadang kita lupa bersyukur atas kehadiran orangtua kita yang sudah berubah kondisinya…kadang kita tidak sabar kalau orangtua kita menjadi seperti anak kecil lagi, dalam segala hal….terimakasih Mel, tulisanmu mengingatkan aku pada banyak hal

    boleh aku link ya? aku akan menulis tentang ibuku, dari ilham tulisanmu…luar biasa….

    buat Oma….aku percaya Oma sudah berada dalam dekapan Tuhan Yesus, bersama para malaikat, lepas dari sakit penyakit dan kesunyian hati.

  10. Imel,
    Walau aku kenal oma udah ditengah-tengah umur Cavido, dimana beliau udah mulai renta, kalau bicara sama beliau mesti ditelinga yang kanan karena yang kiri sudah kurang jelas. Tapi rasa cinta dan simpati kepada oma begitu dalam. Sampai istri dan anak2ku yang tidak ikut cavido saja ikut sayang sama beliau. Aku puas karena pada lustrum ke 6 (Cavido 30 tahun yang lalu pada saat kita bikin pagelaran, beliau masih cukup sehat dan kuat. Tanpa mengurangi makna yang dibangun oleh suster Franceline (Saat itu, Endah, ketua yang sekarang, sempet berkunjung ke suster Franceline), rasanya tidak ada Cavido tanpa Oma Poel.
    Sempat kita debat, yang bener Oma Poel apa oma Paul sih? kan namanya Pauline. Ah, aku rasanya lebih akrab dengan oma Poel.
    Imel, biarpun kamu tidak bisa hadir waktu misa Requiem, sampai dimakamkan, kami udah mewakili kamu nyanyi lagu-lagu kesayangan Oma. Dan lagunya ya itulah : Di Kebun..!!
    Dan haha, itulah saat dimana Cavido menyanyi dengan suara terjelek yang pernah aku denger dalam sejarahnya Cavido. Karena semua nyanyi sambil mewek hahahaha.. termasuk aku sendiri. Lagu lagu lain yang kita nyanyiin : The Lord Bless You (and keep you), lalu Ave Verum.
    Selamat jalan Oma….

    Thanks Imel, udah boleh ikut sharing.
    Noeg – Cavido 1990 – 2009

  11. Mbak,

    Mau tidak mau aku ikut berkaca-kaca membaca tulisan mu ini. Ini rupanya yang menjadi gundahmu beberapa hari ini. Maafkan aku yang tidak sempat bertanya ya, mbak. Terakhir malah dirimu yang menyapa saat aku sedang sibuk-sibuknya menyiapkan parcel kurir. Maaf..*peluk erat*

    Aku merasakan kesedihan bercampur dengan berjuta rasa sayang pada setiap kalimat yang dirimu tuliskan, di sini.

    Aku berdoa, semoga Oma Poel tenang di sisi-Nya. Semoga keluarga yang di tinggalkan juga di berikan ketabahan serta kekuatan.

    Terkadang hubungan keluarga dan rasa sayang itu tidak ada hubungannya dengan darah, mbak.

    Kadang bisa lebih kental dari itu.

    *hugs*

  12. Ikut berduka cita ya mbak, hiks…jadi ikutan sedih. Salut pada mbak Imel yg masih sabar menghadapi orang yang udah tua. Masih mau mendengarkan dan memberi perhatian. Semoga aku juga mampu berbuat yg sama kelak, jika diijinkan Tuhan untuk merawat kedua ortuku hingga akhir hidup mereka…

  13. Imel,
    Tak terasa air mataku mengalir membaca ini.
    Beberapa kali ingin membaca blogmu tentang postingan ini, entah kenapa, membuatku menunda terus, seakan tahu bahwa membaca postinganmu kali ini akan terasa berat dan sendu.

    Imel, saya ingat alm ibu, beliau mengatakan bahwa hubungan saudara bisa terjadi antar orang yang tanpa hubungan darah, teman akrab bisa melebihi saudara kandung.
    Betapa indahnya hubungan dekat Imel bersama oma Poel, layaknya seperti ibu kedua buat Imel dan saudar-saudaramu. Dan oma Poel, pasti berterima kasih telah mengenal keluargamu, yang menganggapnya saudara.

    Ikut belasungkawa Imel, semoga Oma Poel damai di surga….

  14. ikut berduka cita mbak,
    keakraban yang sangat erat antara keluarga mbak Imel dan oma Poul
    pasti merasa kehilangan sekali
    semoga beliau diberi tempat yang layak di akhirat
    karena banyak orang yang mencintai dan mendoakannya

  15. Selamat malam, Sahabat BURUNG HANTU …
    Semoga limpahan rahmat Tuhan selalu tercurah dalam kehidupan Sahabat semua …

    Sehubungan dengan Blog Competition Beswan Djarum yg sedang Denuzz ikuti, Denuzz mohon kesedian Sahabat meluangkan sedikit waktu untuk bisa memberikan komentar di 3 artikel ini:

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/eksperimen-mematikan-bersama-djarum-beasiswa-plus/

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/uh-untuk-apa-jadi-beswan-djarum/

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/beswan-di-tengah-belantara-fana/

    Komentar menjadi poin penilaian yang cukup besar dalam kompetisi …

    Selain itu Denuzz harap Sahabat berkenan untuk memberikan vote di
    http://www.beswandjarum.com/blogcompetition/
    Tinggal klik “SUKA” pada blog atas nama DENUS HERUWANDA …

    Denuzz ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesedian Sahabat narablog …

    Be a happy blogger! …
    Salam BURUNG HANTU …

  16. Tanpa Gurindam, Tanpa Puisi
    Hanya permohonan maaf dari lubuk hati

    Maaf Lahir Bathin ya EM

    Salam saya

    sama-sama mas, aku juga mohon maaf lahir batin
    EM

  17. Assalamualaikum..

    Kamay dan keluarga mengucapkan met idul fitri 1431 H
    Minal Aidzin Wal Faidzin..
    Mohon maaf lahir batin..
    maaf jika ada salah baik tulisan, kata maupun perbuatan..
    makasih 🙂

    salam slalu kamay 🙂

    sama-sama kamay
    EM

  18. Mbak…aku sedih karena aku juga sempat ketemu oma ini…
    dia sayang sekali sama mbak imel dan itu terlihat dari cara dia memandang mbak imel.
    well…sewaktu foto berdua yg aku ambil, sesaat kita akan berangkat kopdaran dia juga terlihat senang.

    aku doakan semoga perjalanan oma akan tenang 🙂

    semoga mbak imel sudah tidak sedih lagi sekarang…muach!

  19. Aduh aduh aduh.. Oma Poel sudah berangkat ke Sana ??
    Saya menyesal nggak sempat ngecek blog Imelda karena akhir natuyasumi ao, lalu aku, lalu masa jadi sakit, yatto kembali ke sehari2 yang sibuk juga..

    Waktu pertama kali saya ‘tinggal’ di MTB, saya bertemu Oma Poel yang begitu damai dan baik, dan dekat dengan keluarga Imelda, maka saya tidak bisa percaya waktu saya dengar Oma Poel tidak berkeluarga.. Loh, tidak ada hubungan darah sama Imelda ?? Kenapa begitu dekat seperti hontouno Oma ?

    Kebetulan waktu itu saya bisa hadir pesta ultah Oma Poel. Saya ada hadiah dari Jepang, dan ikut menyanyi untuk merayakan ultah Oma Poel dan Oma Poel jadi nangis, katanya dia senang bisa punya teman baru dari Jepang di umur tua dan bangga sekali bisa dapat cucu dari Jepang. Memang saya juga senang sekali bisa dekat dengan Oma Poel, dan juga saya terharu. Orang yang sudah tua, apalagi yang tidak berkeluarga bisa berulang tahun dengan air mata senang dan gembira ! Di mana ada orang tua Jepang yang bahagia begitu ? Dengan peristiwa itu saya jadi ingin sekali tinggal di Indonesia untuk belajar cara hidup dan pikir orang Indonesia yang bisa membuat orang sendirian juga bisa hiduo bahagia tanpa merasa sendirian.

    Selama saya tinggal di Indonesia yang cukup lama, Oma Poel seperti Oma saya sendiri. Baik, dengar cerita saya, kadang2 kasih nasehat. Saya sayaaaang sekali sama Oma.

    Tapi… Oma Poel sudah berangkat ya…, maaf Oma Poel saya terlambat mengungkapkannya, tapi, saya turut berduka cita, dan saya juga ikut menyanyikan lagu-lagu untuk mendoakan kepergian Oma sebagai bekas anak Cavido. Terima kasih atas semua kebaikan Oma.

    Imelda, aku jadi kangen sama kakak Imelda.. mau share rasa sedih deh..

  20. “Family isn’t about whose blood you have. It’s about who you care about.”

    Begitu kata sebuah kutipan. Aku yakin Oma Poel sudah sangat bahagia. Ah beliau tidak menikah hingga akhir hayatnya…mengingatkanku pada Jane Austen…betapa indahnya sebentuk cinta yang seperti itu…

    Semoga Arwah beliau diterima di sisi-Nya. Amin.

  21. Sedih saat membacanya karena kehilangan orang yang kita sayangi T_T

    Tapi mereka pergi hanya dari dunia ini tidak pergi dari hati kita bahkan tinggal selamanya bersama kita 🙂

  22. Ping-balik: Twilight Express » Blog Archive » 8 Besar dari Nerima

  23. jadi ingat sama nenek, kakak ayahnya bapa, kami pun sangat dekat 😦
    dia pergi sebelum aku tunaikan janji menjemputnya kalau terima gaji pertama.
    sedih walau baca tulisan yg sudah lewat 2taon silam 😦
    semoga Oma Poel bahagia bertemu mama di surga ya mbak

  24. uuuh… jadi ikut sedih. mewek beneran deh bacanya. di tengah tulisan aku berharap akhir tulisan ini “happy end”. eh, tapi memang barangkali happy end ya? karena Oma Poel sudah bahagia di surga. tulisan ini manis sekali. kalau Oma Poel bisa membacanya dari balik horizon sana, dia pasti bahagia, Mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s