Anak Kunci

Hari Kamis dan Jumat, tanggal 2 dan 3 April, benar-benar hari untuk Riku. Kamisnya aku titip Kai di Himawari dari jam 10. Sebetulnya rencananya jam 9, tapi karena begitu banyak yang aku harus persiapkan jadi terlambat. Foto copy Asuransi Kesehatan, isi formulir pertanyaan mengenai kehidupan sehari-hari, membuat daftar jenis vaksin apa saja yang sudah dan belum diterima, Surat Ijin membawa ke RS seandainya sakit atau kecelakaan, Catatan Nama dan Nomor telepon emergency dll. Belum lagi semua baju, apron, lap mulut, handuk kecil, alas tidur dan selimut handuk harus diberi nama satu-per-satu…. wahhh bener-bener kerjaan deh. repot….

Karena sudah lama tidak dititipkan, Kai menangis waktu kami tinggalkan di penitipan. Aku sering membayangkan pikiran Kai atau Riku dulu, setiap aku tinggalkan di penitipan. Pasti mereka berkata dalam hatinya, “Mama, aku mau sama mama terus, kenapa tinggalkan aku di sini. Guru-guru di sini galak-galak. Aku harus makan semua yang dikasih, padahal aku tidak suka. Aku harus tidur waktu semua tidur, padahal aku tidak ngantuk…” Dan dengan rasa bersalah aku berjalan, dan membatin… maaf ya nak. Mama juga bukan untuk bersenang-senang, tapi untuk bekerja.

Aku dan Riku naik kereta menuju ke Seibu Department Store di Ikebukuro. Tujuannya? Mencari celana pasangan Jasnya Riku. Karena sesungguh aku dulu sudah membeli setelan jas untuk Riku, tapi celananya tidak muat. Gara-gara… ndut hihihi. (aduh Nak, kalau kamu baca nanti kalau dewasa jangan marah ya hihihi). Cari celananya aja, dengan warna yang bisa masuk ke Jaketnya. Masuk keluar toko, tapi memang yang terbanyak baju-baju formal untuk anak perempuan. Duh kalau punya anak perempuan, aku bisa bayangin deh berapa uang harus dikeluarkan untuk mendandani anaknya. Pilihan untuk anak laki-laki amat sedikit. Mau cari di Polo Ralph Lauren, semua jasnya bahan wool, jadi terlalu panas untuk musim sekarang. Akhirnya masuk ke toko Perancis deh, “comme ca du mode”. (to tell the truth, aku sebenarnya tidak begitu suka Perancis, entah kenapa)

Gadis pelayan yang melayani kita amat ramah dan cantik. Dia sabar sekali mencarikan segala alternatif dan dengan mulut manis seorang penjual, berhasil mendandani Riku dari atas sampai bawah. Padahal Rikunya sudah sebel, ngomel terus karena dia maunya pergi ke tempat mainan. Susah deh anak laki! Didandani ngga mau. Sampai aku marah dan bilang, “Ya sudah Riku, kalau Riku tidak mau tampil keren, ngga papa. Mama ngga usah buang uang beli baju untuk kamu. Kamu pake pajama aja ke sekolah ya. Semua teman-teman kamu pakai Jas, keren-keren. Mama ngga mau tahu lagi. Silakan pergi sendiri sama papa. Diurusin ngga mau…huh….” Kalau aku sudah bicara gini, dia cuma bisa nangis aja deh…  Emang sifatnya anak laki kayak gitu ya?

Jadi hari kamis itu berakhir dengan belanja dan kencan makan di Mac Donald, es krim dan pulang bersama Kai dengan badan letih. Hari Jumatnya jam 9 aku titip Kai, tapi kali ini kami berdua tidak pergi ke mal, malah berbelanja sayur dan keperluan rumah tangga. Nah, pada saat aku pergi ke sebuah toko kelontong dekat rumah itulah aku teringat tentang KUNCI.

Riku memegang-megang kunci dengan lapisan plastik bergambar karakter disney. Memang toko itu juga bisa membuat kunci duplikat atau bahasa Jepangnya Aikagi. Aku teringat untuk membuatkan Riku duplikat kunci rumah, sehingga dia bisa masuk ke dalam rumah kalau-kalau aku tidak ada di rumah. Yang pasti setidaknya untuk semester ini setiap hari Jumat, dia harus menunggu aku di rumah sampai aku pulang mengajar. Waktu di TK, ada kelas tambahan sampai dengan jam 5 tapi di SD tidak ada. Kalau mau aku harus mendaftar ke tempat belajar anak-anak SD selepas sekolah. Tempat ini namanya Gakudo. Tapi aku tidak bisa mendaftar ke situ karena waktu kerja aku di luar rumah tidak sampai 5 hari seminggu. Repot deh. Sehingga memberikan kunci adalah jalan satu-satunya, selain menitipkan /menyuruh dia pergi ke rumah teman (which is rather difficult, karena dia tidak punya teman akrab).

Anak Sekolah Dasar yang membawa kunci sendiri ini disebut dengan Kagikko atau diterjemahkan Anak Kunci. Bukan anak kunci sebagai pasangan lubang kunci, tapi benar-benar anak yang membawa kunci. Aku ingat dulu, 20 tahun yang lalu, waktu belajar kebudayaan dan masyarakat Jepang aku pernah membaca soal ini. Dalam ilustrasinya digambarkan anak SD yang berkalungkan kunci.

Fenomena Anak Kunci ini timbul sekitar tahun 1960, waktu Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat. Sampai tahun 1968, pemerintah merasa perlu mengadakan “Penelitian kondisi dan strategi penanggulangan Kagikko” . Dalam survey yang dilakukan terhadap ibu-ibu yang bekerja ini didapatkan hasil bahwa, ibu-ibu yang “tidak mengalami kesulitan keuangan tapi menginginkan tambahan pemasukan” sebanyak 49,2%. Sedangkan ibu-ibu yang “Jika tidak bekerja maka keluarga akan mengalami kesulitan ekonomi” sebanyak 28,4%. Dengan demikian diketahui bahwa timbulnya Kagikko ini karena wanita perlu keluar rumah dan bekerja demi memenuhi standar kehidupan yang tinggi akibat kemajuan perekonomian Jepang. Selain alasan ibu yang bekerja ini, alasan lain adalah bertambahnya keluarga Kakukazoku (Keluarga Inti) yang kakek-neneknya tidak tinggal bersama-sama (jadi tidak bisa dititipkan).

Mulai tahun 1963, untuk mengatasi kesendirian anak-anak kagikko ini, didirikanlah Gakudo Hoiku (semacam penitipan) dan perpanjangan penggunaan halaman sekolah untuk bermain. Dan mulai tahun 1975, banyak timbul Bimbingan Belajar (Gakushu Juku) yang kemudian menjadi semacam tempat “menaruh” anak-anak ini saja.

Jumlah anak-anak sekarang semakin sedikit, sehingga tentu saja jumlah kagikko ini menurun. Tetapi jika diteliti lebih lanjut, pada survey (5 tahun yang lalu) terhadap anak berusia di bawah 18 tahun dan kedua orang tuanya bekerja, jumlahnya mencapai angka 54,7%. Jadi jumlah kagikko ini sebenarnya semakin banyak dengan alasan kemungkinan  lebih banyak lagi wanita yang bekerja merubah statusnya dari partimer menjadi full timer. Kondisi kagikko seperti di Jepang tidak akan terjadi di Amerika, karena orangtua kagikko atau orangtua yang membiarkan anak-anak untuk tinggal di rumah sendirian akan dituduh “neglect -mengabaikan” dan bisa dituntut. (sumber wiki jepang)

Kagikko tidak akan terjadi di Indonesia. Mungkin. Paling sedikit ada asisten (pembantu rumah tangga) yang menunggui rumah. Atau jika tidak ada sama sekali, anak-anak bisa menunggu di rumah tetangganya. Sedangkan di Jepang, tidak bisa. Tidak ada pembantu, dan hubungan dengan tetangga tidak begitu erat seperti di Indonesia, atau tetangga itupun mempunyai masalah yang sama, rumah kosong! Problem kota besar! Dan memang aku juga tidak mau sebetulnya Riku menjadi kagikko, tetapi untuk saat ini kelihatannya menyerahkan anak kunci pada Riku akan lebih praktis.  Paling tidak untuk seminggu sekali.

Iklan

23 comments on “Anak Kunci

  1. kalo temanku (yg di Jakarta), dia memboyong orangtuanya untuk menjaga anaknya saat ia bekerja. apalagi temanku orangtua tunggal. jadi rasanya hanya keluarga dekatnya yg bisa dia andalkan. problem kota besar sih rata2 begitu ya.

    krismariana´s last blog post..

    Iya kalo bisa begitu sih bagus.
    EM

  2. Trus juga keamanan di sana bisa dijamin ya Mba’ ya …

    Muzda´s last blog post..Theme Song

    ya, dekat polisi dan sudah ditentukan tempat-tempat untuk “melarikan diri” pada waktu tercium bahaya.
    EM

  3. Titipin di Bandung aja. Ntar aku rawat sampe gede! Mayan ada temen :p

    Je ne parle pas français, Madam…
    Hihihi.

    Daniel Mahendra´s last blog post..3 Pucuk Buku

    Bener nih Danny? Dia pasti seneng banget….karena dia bilang kok mau tinggal di Indonesia.
    mau jadi single father nih?

    Masak sih ngga bisa bahasa Perancis? Je pense que c’est possible.
    EM

  4. Saya selalu mengira Japang bukan tempat di mana manusia bisa hidup dengan manusiawi.
    Cuma robot doang bisa hidup di sini.
    Dan sekarang ada banyak orang kayak robot.

    Sebentar lagi Jakarta juga begitu kok
    EM

  5. Wah…seumuran Riku sudah harus pegang kunci sendiri??? Mbak, kota besar itu memang terkadang harus memangsakan sesuatu yg harus dilakukan oleh warganya ya…bukan untuk apa2 tetapi biar lebih praktis 😀

    kalo riku mau..juga boleh tinggal sama tante Ria, daripada sama OM Niel 😀
    disini masih bis liat monyet jalan2 di jalanan, ular sesekali gajah…huhehehehehe

    Waaah tawaran yang menarik, karena dia suka binatang tuh hehhehe
    EM

  6. Aku dulu juga jadi “Anak Kunci” karena ayah & ibuku bekerja, tapi saat itu aku sudah klas 6 SD sih, jadi udah agak gedean. Ada rasa ‘nelangsa’ dirumah sendirian tapi disisi lain jadi lebih mandiri dan bertanggung jawab.

    Btw,
    tentang istilah ‘anak kunci’ sebagai pasangan lubang kunci, kenapa nggak ada istilah ‘ibu kunci’ ya? hihihi 😀

    tanti´s last blog post..Fly Me to the Moon

  7. Wah sekarang jadi masuk ke 54,7% itu dong Mba. Mau ga mau ya begitu.

    Sama pas mahasiswa gw ga mau kerja 8 to 5. Eh mau ga mau deh, emang jadi salaryman harus gitu.

    mangkum´s last blog post..Golput di Mata Saya

  8. Wow salut buat kemandirian anak di Jepang. Ngomong2 kalau Riku sendirian dirumah mbak Imelda nggak khawatir mbak, misalnya takut terjadi apa2 gitu ?. Terus keamanan dll di sana apakah sangat terjamin ?.
    Terima kasih atas sharingnya mbak Imelda 🙂 🙂 🙂
    Best regard,
    Bintang

    elindasari´s last blog post..What do you think about it ?

  9. Riku di tuntut utk mandiri..mudah²an riku bisa melakukannya dg baik.. ^_^

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

  10. “Gadis pelayan yang melayani kita amat ramah dan cantik…” mungkin kalo aku yg di dandani pelayannya itu, pasti akan betah dan tidak akan merasa sebel kek riku heuheu..ya kan bun?

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

  11. nanti kalo bunda sibuk kerja, biar kai aku yg asuh deh bun heuheu…

    Didien®´s last blog post..iPhone OS 3.0, Dilengkapi dengan Copy Paste

  12. Kalo di indo, kita masih bisa nitip tetangga yang kita percayai lho bu….bahkan kalau anak kita bayi, maka bisa juga dapat ibu sesusuan.. hehehehe

    O ya…bu, kaalo riku gak mau tampil keren….biarin ja bu…kadang-kadang kan anak-anak punya pikiran lain soal tampilannhya.

    Waktu lebaran taon lalu, aku bawa ponakan beli baju lebaran….yang dipilihin dia gak mau, malah ambil sendiri…

    Tau gak bu yang diambil itu adalah kemeja, pake rompi woll trus celananya olah raga…dia gak mau tukar…ya udahhhh aku biarin aja….pas waktu lebaran di pake, diketawain oleh teman-temannya…baru tuh anak nyadar kalo pilihannya gak cocok hehehehehe jadi dia belajar sendiri…hehehehe

    Tapi gak tau, apakah di jepun boleh tampil amburadul begitu ke sekolah. hehehehehe

  13. HHmmm … ini menarik …
    aku pikir 4 April itu hari anak kunci atau hari penitipan anak …

    But …
    Flash back sejarahnya paten juga …
    This is what I like about EM …

    detail dan kumplit

    Salam saya

    nh18´s last blog post..CERITA YANG TERTINGGAL

  14. Di Jakarta mungkin akan ada anak kunci seperti itu Imel, apalagi makin sulit mencari pembantu yang bisa dipercaya. Saat saya kecil, ayah ibu bekerja, dan masing-masing anak punya kunci (maklum setelah lulus SD, ibu tak ada pembantu).

    Tapi memang yang perlu dipikirkan adalah masalah penitipan anak, mungkin ini lebih aman dibanding ditinggal sama pembantu di rumah.

    edratna´s last blog post..Saung angklung Udjo, salah satu contoh industri kreatif?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s