Mamma Mia!!! kok lelet banget ya?

Tadi pagi ada sesuatu di televisi yang membuat suami saya terlambat pergi kerja. Yaitu sebuah interview televisi Jepang dengan Merryl Streep, si pemain di film “Mamma Mia”. Wah memang dia sudah tua ya, sudah terlihat keriput di sana sini. Tapi ada satu kata-katanya yang cukup memberikan inspirasi (ah kata-kata ini aku tidak begitu suka… tapi ngetrend banget sih di Indonesia) yaitu, “Keep your spirit, jangan mau kalah dengan umur. Tapi jangan mengingkari umur juga. Yang penting jangan putus asa! ” 年に負けず Kira-kira begitulah kata-kata dia yang sudah diterjemahkan dengan subscript 字幕 di bagian bawah dalam tulisan bahasa Jepang (Dan saya selalu membaca script-script seperti itu, makanya saya benci jika terjemahannya salah)

Kenapa juga Merryl Streep diwawancarai hari ini? Ternyata hari ini , ya HARI INI tanggal 30 Januari 2009, FILM MAMMA MIA itu baru diputar di bioskop-bioskop di Jepang. WELL, coba baca ulasan adikku si Lala di sini. Postingannya di tanggal 13 Oktober jeh. Di Indonesia sudah main lama (udah kunoooo). Tapi di Jepang baru hari ini. Saya juga sudah bisa (sudah bisa bukan berarti sudah menonton loh… lain sekali… ) nonton di dalam pesawat SQ waktu pulkam akhir Oktober-November lalu. TAPI di bioskop Jepang, orang-orang Jepang baru bisa nonton HARI INI. Kenapa kok bisa begitu?

Ya, ini adalah sebuah masalah yang kelihatannya sulit untuk diatasi oleh masyarakat film di Jepang. Sudah pasti film-film dari Luar Negeri baik itu film hollywood atau film asing lainnya membutuhkan penerjemahan. Penerjemahan itu bisa berbentuk subscript (tulisan di bawah kalau di Indonesia dan di samping kanan kalau di Jepang — karena tulisan kanji itu dari atas ke bawah-kanan ke kiri) atau sulihsuara. Akhir-akhir ini lebih banyak film yang memakai sulih suara. Jadilah kita menonton film action di Swachi -chan ( Schwarzenegger)   dengan suara om-om Jepang yang terus terang saja TIDAK MACHO sama sekali. Kalau sudah dipasang di televisi memang kita bisa switch ke bahasa asli atau bahasa Inggris, tapi kalau di bioskop kan tidak bisa seenak perut. Pasti yang dipasang yang bahasa Jepang.

Film Wall-e yang Riku tonton bulan Desember lalu juga sudah di-sulihsuarakan ke dalam bahasa Jepang! Oi oi… makanya orang Jepang sampai kapanpun akan sulit berbahasa Inggris karena tidak terlatih!. OK deh Karena Wall e adalah konsumsi anak-anak yang belum bisa bahasa Inggris, mau tidak mau memang harus memakai sulih suara. Saya katakan MAU TIDAK MAU!. kenapa? Ya karena sulit untuk memberlakukan penulisan subscript terjemahannya di dalam film. Nah! kenapa lagi tuh.

Untuk menerjemahkan pembicaraan bahasa Inggris ke dalam bahasa Jepang tentu saja memakai KANJI. Pengetahuan Kanji anak-anak SD- SMP tentu saja masih terbatas. Akan ada banyak tulisan yang mereka tidak bisa baca dan mengerti. Yah, kalau begitu pakai hiragana saja. Nah itu dia masalahnya, kalau pakai hiragana maka kalimat yang harus ditulis akan semakin panjang. Ternyata ada ketentuan bahwa panjangnya satu subscript film hanya boleh memakai 13 huruf dalam 2 baris. Alasannya manusia hanya bisa membaca 4 huruf dalam 1 detik. Dan ternyata sekarang pun jumlah huruf yang 13 itu menjadi semakin sulit. Banyak pemuda Jepang yang tidak keburu membaca 13 huruf itu. Ini berhubungan dengan menurunnya kemampuan pemuda Jepang menguasai Kanji, menurunnya berbagai pengetahuan umum, termasuk sejarah dan budaya. Misalnya Soviet dalam bahasa Jepang disebut ソ連(それん), dan banyak pemuda yang tidak tahu apa itu.

Jadi sekarang banyak pengimpor film asing yang berputar haluan membuat sulih suara untuk film-film yang akan diputar di bioskop maupun di video. Dan proses pembuatan sulih suara itu memang lebih memakan waktu daripada hanya menambahkan subscript pada film. Karena proses panjang itulah sering kali kami yang di Jepang harus menunggu film-film baru hollywood yang sudah diputar di Indonesia paling cepat 3 bulan sesudahnya. Ironis ya? Dan JUDUL FILM nya bisa berubah, disesuaikan dengan bahasa Jepang misalnya Basic Instinct jadi 氷の微笑 (harafiah nya senyum es). Karena itu saya paling benci kalau murid-murid saya memberitahukan judul film holywood yang sudah diterjemahkan. Pasti saya tanya, “Bahasa Inggrisnya apa?” hehehhe. Dan tentu saja mereka tidak tahu! Kalau sekarang enak, bisa tanya sama Paman Google. Dulu belum lahir tuh Pamannya.

Sebagai tambahan saya juga ingin menceritakan pengalaman nonton bioskop di Tokyo. Saya tidak tahu apakah akhir-akhir sudah berubah, tapi yang pasti jika kita mau nonton film di bioskop, kita membeli karcis secepat mungkin. Kalau film baru malah biasanya harus antri berjam-jam. Nah, kalau di Indonesia kan biasanya kita bisa memilih tempat duduk yang ada, sehingga kita bisa pergi dulu jalan-jalan dan sebelum film mulai kita kembali ke gedung bioskop itu. Nah, kalau di Jepang, tidak ada sistem memilih tempat duduk. Siapa cepat masuk dia bisa memilih mau duduk di mana. Karena itu, sesudah membeli karcis, semua akan antri lagi di depan pintu masuk. Bayangin deh, dengan tiket di tangan kita masih musti tunggu lagi 1 jam untuk berebut tempat! Bete bete deh. Pernah saya mau membeli tempat duduk VIP saja. Eeee ternyata tempat duduk VIP itu bedanya hanya berada persis di tengah-tengah bioskop dengan tanda alas duduk berwarna putih! Mending kalau kursinya kursi sofa empuk bisa selonjoran. No! sama seperti yang lain tapi ada alas sandaran bahu/leher berwarna putih. Harganya? dobel …. HuH! Mending nonton DVD di rumah saja. Tapi mungkin juga sistem ini sudah berubah, soalnya sudah lama tidak nonotn film di bioskop sih.

Tapi yang enak sih memang dulu pernah nonton film di bioskop di daerah Chiba (desa? …heheeh jangan marah ya untuk mereka yang tinggal di Chiba). Kita bayar satu film tapi bisa nonton berkali-kali asal tidak keluar dari bioskopnya. Jadi bisa juga masuk tengah-tengah film duduk, dan nonton lagi mulai awal (jadi bisa nonton satu setengah film hahahaha… bener-bener deh gaya mahasiswa. Kalo anak 80-an bilangnya BOKIS!!! (Yang pernah ngajak saya nonton di Chiba baca posting ini ngga ya hehehe)

So, apakah saya akan nonton Mamma Mia hari ini? TIDAK. Hari ini hujan terus, dan saya tidak suka menonton. Nanti saja kalau saya naik SQ ke Singapore mungkin bisa menonton film baru dalam pesawat (kalau Kai tidak rewel— Kalau Riku sih enjoy banget nonton film dia, waktu itu pp dia menonton Kungfu Panda dan terbahak-bahak sendirian. Dan film itu memakai sulih suara bahasa Jepang! )

(Tadi sempat lihat trailernya di http://www.mamma-mia-movie.jp/enter.html     hmmm si Pierce Brosnan sudah tua ya —well saya juga sudah tua sih—  padahal aku suka banget sama dia waktu main di Return of the Saint)

Iklan

22 comments on “Mamma Mia!!! kok lelet banget ya?

  1. Wah akhirnya diposting juga ya neechan.
    Waktu denger masalah bioskop ini dari neechan, aku sempet terbengong-bengong…ternyata ribet juga yah mau menayangkan film di bioskop Jepang, maksudnya masalaha subscriptnya itu…

    Trus masalah tempat duduk, hahahha klo tempat duduknya berebutan gitu, kok kynya emg lebih enak ntn di Indonesia y?

    Kirain Indonesia tuh udah terbelakang bgt lho ttg pemutaran film hehehe

    Klo gitu kerja jadi Seiyuu kayaknya laku tuh neechan hihihi seperti yg pernah kita bahas kmrn hehhe

    wita´s last blog post..Katak yang Tuli

  2. serba susah kalo mo nonton film di sana keknya? :mrgreen:
    yakin g bisa terbawa suasananya deh..hehehehe…

    Didien®´s last blog post..IBSN : tips buat pengendara normal

  3. Iya, sering bahkan selalu suatu film lebih dahulu diputar di Indonesia daripada Jepang.
    Bisa jadi karena orang Jepang nggak pintar menerjumahkan bahasa asing.
    ( enak aja saya omong.)

  4. tapi mereka (orang jpn nya) nggak protes yaa filmnya di sulih suara begitu? malah keliatannya pada nyaman2 aja , bener nggak nih?
    *psst masih inget kan bu, bos ku yg baru ndak begitu pinter englishnya? … imbasnya .. diriku ketiban pulung deh saban meeting … hiks!

    mascayo´s last blog post..please think seriously!

  5. Kalau di Perancis film-film TV juga disulihsuara juga jadi bahasa Perancis, tapi dipilih pengisi suara yg agak mirip/menirukan suara aslinya. Untuk film yg belum pernah kita lihat versi aslinya, kadang kita sudah terlanjur mengasosiasikan ya seperti yg sulihsuara itulah aslinya.

    Oemar Bakrie´s last blog post..Sudah (atau baru) 200 posts ?

  6. Hiks … saya sudah lama nggak nonton pelem di gedung bioskop hiks hiks hiks … sejak musim dvd [yang harganya murah itu lho, dan lebih cepat satu semester dari bioskop 🙂 ] dijual di mal-mal hehehe
    Iya memang sangat tidak mengenakkan nonton pelem dengan alih suara ya, suka nggak sesuai antara profil pemain dengan karakter suara pengisinya 🙂
    Saya lebih seneng ngliat pelem dengan bahasa aslinya meski bingung pemainnya lagi pada ngomong apa tapi asyik … hehehe

    Selamat berakhir pekan Mbak Imelda 🙂
    Salam hangat

    Ben

    Ben´s last blog post..Aku, Lilin, Malam dan Kanji

  7. Jadi pingin nonton Mama Mia! Saya belum nonton. Hebat ya org Jepang itu, bener2 masyarakatnya diajarin berbahasa Jepang terus menerus, lucu tapi bagus juga siy, sebab kalau dipikir2 apa perlu begitu rilis di Amrik trus seluruh dunia juga musti langsung nonton. Haha! Bravo deh Jepang, qiqiqi.. Tambah lama saya jadi tambah suka sama Jepang, soalnya asli unik banget!

    -G-´s last blog post..catatan kecilnya

  8. Hahaha.. begitu rupanya keadaan di Jepang ya bu. Mereka ternyata bangsa yang tidak mengenal privilage ya, sama rata semua. Kalo DVD bajakan ada ga di sana? kalau di Indonesia tahukan, benarbenar surga.
    😀

    HP´s last blog post..Stairway to Heaven

  9. Pelm wall-e di sini juga didubbing. Ga masalah sih secara percakapannya sedikit. Tapi kalau banyak mah males.

    Masalah bahasa asing udah lama kan jadi masalah buat orang Jepang. Terus, apa ngga ada usaha dari pemerintahnya untuk mengatasi hal ini? Menurutku sih pasti udah kepikiran, secara negara maju gitu loh…

  10. Saya nggak suka nonton film yang disulihsuarakan. Nggak matching, wagu … kayak palsu, gitu. Lha wong wajah bule kok ngomongnya Indonesia, wah … sebel.

    Baru tahu, ternyata repot banget ya urusan ‘bahasa’ film di Jepang? Ohya, saya baru ‘sadar’, bahwa di Jepang ternyata ada huruf kanji, ada huruf hiragana. Weleh … repots!

    Basic Instinc = Senyum Es ? Wakakakaka ….

    tuti nonka´s last blog post..Garudaku, Terbanglah Tinggi di Angkasa …

  11. Jiah!
    Baru muncul di Jepang! ck-ck-ck…
    Untung dirimu bukan pecinta bioskop ya, Sis… Bisa three months too late dong… 😀

    Aku suka kalimatmu yang Om-Om Jepang itu..
    wakakakakaka…
    Pasti aneh banget!

    Lala´s last blog post..Unnecessary Madness

  12. Sebetulnya adanya sulih suara ini membuat kita tak mengenal bahasa asing dengan cepat. Tapi membayangkan lucu juga ya, sulih suara dalam bahasa Jepang jadi kalau orang asing nonton di bioskop Jepang malah sulit ya…atau malah menjadi makin cepat menguasai bahasa Jepang.

    edratna´s last blog post..Naik Kereta Api Bandung-Jakarta tetap menyenangkan

    Saya tidak menyarankan memperlancar bahasa Jepang di bioskop, tapi video bolehlah. Tapi buat saya yang paling efektif adalah dengan karaoke.
    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s