Beban berat anak SD Jepang

Yang saya mau katakan di sini bukanlah pelajarannya atau kurikulumnya… Tapi benar-benar beban yang harus dipikul setiap hari oleh seorang anak SD ke sekolahnya. Setiap anak SD di Jepang pasti mempunyai ransel bentuk demikian…semua seragam. Warna boleh macam2- tapi bentuk seragam semua. Dan sering saya kasihan melihat tubuh kecil itu harus membawa beban yang (kelihatannya) berat itu.

Beberapa hari terakhir ini selalu ada DM (Direct Mail bukan Daniel Mahendra loh) yang menawarkan ransel untuk anak SD. Masing-masing mempromosikan kehebatan ranselnya, dan yang biasanya ditekankan adalah bahwa ransel buatan mereka itu tahan selama 6 tahun, sampai lulus SD. Wahhh bisa bayangkan tidak ya? selama 6 tahun dari SD kelas 1 sampai kelas 6 ransel yang dipakai itu-itu saja. Dan ransel itu polos tak bergambar loh… kayaknya kok terlalu serius untuk anak-anak. Saya bayangkan sepupunya Riku yang bersekolah SD, ranselnya beraneka warna dengan tokoh-tokoh karakter yang mereka sukai. Dan biasanya besarnya disesuaikan dengan jenjang kelasnya. Semakin tinggi kelasnya, semakin besar ranselnya.

Tapi saya juga mendengar bahwa perlengkapan masuk SD ini biasanya diberkan oleh kakak-neneknya, sekaligus biasanya keluarga terdekat akan memberikan angpao, selamat memasuki SD. dan menjadi pika-pika ichinensei (Kelas satu yang berseri-seri). Hmm mudah-mudahan kakek-neneknya Riku mau membelikan ransel ini, yang saya lihat harganya cukup amat mahal bayangkan 40.000 yen euy, kalau dikurskan ke rupiah menjadi 3,2 juta rupiah… duhhh…. kenapa harus segitu mahal sih? Sayang anak?

Iklan

16 comments on “Beban berat anak SD Jepang

  1. Muahhhaaalll buanget, bow…
    Nggak ada gambar kartunnya lagi…
    Wah, anak2 pasti kurang suka tuh, Ime-chan…

    Itu kan anak Indonesia, anak sini mah penurut (abis ibunya galak-galak sih, cuman mamanya Riku yang slengekan gini… sesukanya aja)
    EM

  2. itu kebijakan atau budaya jepang yaa? … atau trend saat ini bu ?

    apa ngga ada yang protes ?

    kebijakan juga bukan kayaknya
    budaya? hmmm trend juga mungkin masuk budaya
    nah itu herannya ngga ada yang protes. Saya mau protes ntar dibilang, “Huh dasar orang asing!”
    nah loh…
    EM

  3. Ransel yang gaya gitu bertahan selama 6 tahun justru iklan bombastis.
    Waktu saya anak SD, ranselnya bernyawa 4 tahun, padahal saya nggak pake dengan kasar lho. Malah pakainya dengan halus, seperti sifat saya.
    Sesudahnya saya pakai tas yang saya sukai seperti anak-anak Indonesia.

    Meskipun ranselnya bertahan selama 6 tahun, biasanya anak-anak SD mau pake tas yang disukainya kalau kelas mereka semakin tinggi.
    Tapi boleh pakai tas sendiri atau tidak, itu tergantung peraturan sekolah.

    Hehehe ternyata kamu halus sifatnya ya? aku baru tahu heheheh:)
    EM

  4. keren~ dari dulu suka bayangin rasanya gendong tas gtuan ihihihihii ternyata muahal ya 😛

    hahhaha, kuro chan kembali ke SD lagi aja yah…hehhehe
    EM

  5. waduuuh mahalnya mbak …kalau anak Indo gak bakal mampu beli. Apa ya pertimbangannya kok harus pakai ransel itu ..kita bagi kali ya 39,900 yen, atau 3,2 juta dibagi 6 tahun ,jadi setahun sekitar 550,rb..atau 1 bulan 50 rb.nah begitu aja ,jadi kelihatan murah..he..he

    aduuuuh ibu bener sekali… investasi untuk anak ya? Hebat ibu…benar-benar pengusaha sejati. Tapi bu harga itu hanya berlaku untuk periode tertentu, harga biasanya tertulis dibawahnya tuh 50 ribu sekian hehehhe.
    EM

  6. Saya pernah lihat berita di TV Perancis bahwa bawaan anak SD yg terlalu berat kurang baik untu kesehatan terutama tulang punggung yg memang masih kurang kuat. Lalu ada aturan bahwa buku2 SD tidak boleh terlalu berat, ada maksimum-nya saya lupa. Saya sendiri sering kasihan lihat anak saya bawaannya juga berat, rasanya dulu saya nggak gitu-gitu amat …

    Nah seharusnya begitu pak…. Seharusnya ada yang mengulas beratnya tas itu untuk kesehatan anak. Sayangnya di Jepang tidak ada yang mau mengatakan itu…. Sulit memang tinggal di Jepang itu, harus mengikuti arus, jika tidak, kamu akan hanyut dan tenggelam. Tapi untung sekolah nya pasti dekat rumah, karena sistem rayon, jadi tidak perlu jalan jauh sambil menggendong beban berat itu.
    EM

  7. Kalau melihat film-film realis Jepang, rasanya betul, tas sekolahnya berupa ransel-ransel gede yang kesannya beraaattt…. sekali.

    Tapi kenapa tas si Nobita selalu kecil mungil ya? Ah, dasar pemalas! Pantas ulangannya selalu dapat nol. Hehe!

    Yup, saya juga selalu kasihan melihat anak2 SD itu. Nanti saya mau perhatikan tasnya Riku akan berat atau tidak ya…. (hmmm kalau dipikir mulai April nanti my baby will become a student…. well aku akan ikut belajar dengan dia…karena saya belum pernah belajar SD Jepang, Datang-datang langsung Pasca Sarjana sih hihihi)
    EM

  8. Dan, he (lupa mau komentar itu), kenapa ada DM lagi, DM lagi…?!

    Wakakakakakkk…!!!

    Saya juga heran kenapa DM begitu laris di sini ya? OK ganti nama jadi Danny mau? oh Danny Boy hihihi
    EM

  9. Mahal banget ya…..dan kasihan ya kecil-kecil ranselnya udah besar sekali, apa nggak ada pengaruhnya terhadap perkembangan tulang punggung? Nggak ada tas yang beroda ya…biar bawanya nyaman.

    Ngga ada tuh bu… Pada prinsipnya orang Jepang suka seragam, tidak mau menonjol jadi ya begitulah samaaaaa semua.
    EM

  10. Di SD deket rumah, anak-anak muridnya malah pakai tas model koper yang bisa digeret-geret begitu. Nah, kalau model begini kan nggak bikin punggung bongkok… Hehehe….

    Ah, eniwei…
    Dulu kan menggebu-gebu sekali untuk someday somehow bisa tinggal di Tokyo… Skarang? Uluh, uluh… Smua-muanya muahal yah…. Udah gitu lakinya dingin pula! Hehehe

    Tahu ngga la, model tas gerek gitu, selain untuk ke narita dan fly to somewhere….. Jarang ada yang mau pake…. Karena…. cuma MANULA , nenek-nenek yang pake tas gerek dan dorong gitu hahahaha. Pernah sekali aku bawa yang kayak koper cabin itu, untuk belanja, tapi abis itu jadi malu sendiri. (Padahal org lain kan ngga tau itu isinya sayur hihihi).

    Hmmm iya la..sekarang aja mulai mendingin krn autumn kan… bayangin kalo pelukan ama laki dingin? BEKU kita… trus mencairnya baru bulan April waktu sakura mengembang…. bete ngga tuh? hihihi
    Soal mahal sih gpp, nantokanaru kata orang jepang…. selama masih bisa jualan ….hihihi
    EM

  11. Dilatih biar jadi backpacker sejak kecil 😀
    Jadi ngebayangin anak SD Jepang hampir kesiangan lari-lari gendong backpack berat…

    Mungkin ada korelasi antara berat tas sama kecerdasan. Ada yg udah neliti itu belum yah?

    1. anak SD di sini ngga akan kesiangan
    2. ngga ada hubungan tas berat sama kecerdasan. Kalo tasnya isi batu? kan ngga bakal cerdas hihihi
    3. Mang Kumlod aja yg neliti gimana?
    EM

  12. – Ya mereka ga bakalan kesiangan karena mereka lari2 sebelum jam masuk.
    – Males ah bikin penelitian itu, jauh… harus ke Jepang…

    hihihi iya…urusin dalam negeri dulu mang.
    EM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s